me....

me....
semoga yang ada di blog ini dapat membantu ✿◠‿◠

Jumat, 03 Desember 2010

PENGAMATAN FASE MITOSIS PADA TUDUNG AKAR BAWANG MERAH (Allium Cepa L.)

PENGAMATAN FASE MITOSIS PADA TUDUNG AKAR BAWANG MERAH (Allium Cepa L.)

Pada pengamatan pertama, didapatkan sel yang memiliki kromosom yang belum membelah, dan letaknya bergerombol di tengah dengan warna yang jelas dan susunannya agak merenggang. Sehingga pada sel ini dapat disimpulkan mengalami pembelahan mitosis pada tahap awal yaitu profase.

Pada pengamatan kedua tampak sebuah sel yang kromosomnya sudah memisah dan menuju ke kedua kutub yang berlawanan. Sehingga fase ini kami simpulkan bahwa terjadi pembelahan sel yaitu pembelahan pada fase anafase.

Pada pengamatan ketiga, didapatkan sel yang intinya (kromosom) sudah terpisah sempurna namun dinding selnya belum terpisah secara sempurna. Sehingga dengan demikian kami menyimpulkan bahwa pada saat ini sel mengalami pembelahan mitosis tahap telofase.

Pengamatan yang tidak teramati adalah fase metafase, pada fase ini kromosom menyusun diri secara acak pada satu bidang ekuator atau tengah-tengah sel.

Untuk mengamati tahap-tahap pembelahan mitosis dilakukan pemotongan akar pada saat tengah malam, yaitu pukul 24.00 WIB. Menurut Margono (1973) hal ini dikarenakan pada ujung akar bawang merah banyak sel yang mengalami aktifitas pembelahan dengan rentangan 5 menit sebelum dan sesudah pukul 24 malam sehingga diharapkan tahap-tahap mitosis dapat diamati.

Pemotongan bagian ujung akar (pada jam 12 malam) yang kemudian dilanjutkan dengan perendaman potongan ke dalam larutan FAA. Perendaman dilakukan agar sel tidak mengalami pembelahan lagi, karena tidak memungkinkan bagi kami untuk langsung mengamati tahap-tahap mitosis pada tudung akar bawang merah pada saat itu juga. Larutan FAA merupakan larutan fiksatif yang dapat menahan sel untuk tidak membelah lagi sehingga tahap-tahap pembelahan mitosis dapat teramati.

Sebelum pengamatan atau pembuatan preparat, dilakukan dua kali perendaman dengan perendaman pertama pada alkohol 70% selama dua menit dan rendaman selanjutnya pada larutan HCL 1N selama lima menit. Perendaman pada alkohol bertujuan untuk mensterilkan dan membersihkan sisa larutan FAA yang kemungkinan masih menempel pada potongan akar. Sementara itu, larutan HCL 1 N berfungsi memperjelas batas antara daerah tudung akar dengan bagian yang lain karena dengan pemberian larutan ini daerah tudung akar akan terlihat lebih putih daripada bagian lainnya.

Setelah terlihat jelas perbedaan antara tudung akar dengan bagian akar yang bukan tudung akar, maka dilanjutkan dengan pemotongan bagian tudung dan peletakan potongan pada kaca benda yang diikuti dengan pemberian acetocarmin dan pencacahan tudung akar menggunakan silet berkarat. Pemberian acetocarmin akan memberikan pewarnaan dan akan mempermudah pengamatan, sementara pencacahan dengan silet berkarat dapat membantu pengikatan warna yang dilakukan oleh kromosom karena silet yang berkarat terdapat Fe yang teroksidasi. Tahap terakhir adalah pemanasan, pemanasan dilakukan bertujuan untuk mempercepat proses penyerapan warna dari asetocarmin.

Dari hasil pengamatan pada pembelahan mitosis di dapatkan tiga fase, fase pertama yang ditemukan yaitu profase.

sumber : www.life.uiuc.edu/ib/102/lectures/08reproduction.html

Pada fase ini terlihat sel dengan bagian inti yang sudah mulai terakhir seperti benang-benang yang tidak teratur. Pada fase ini sel sudah mempersiapkan diri untuk membelah yang ditandai dengan berubahnya memadatnya kromosom, membran inti tidak terlihat dan nukleolus menghilang.

Selanjutnya ditemukan fase anafase. Berdasarkan pengamatan, fase ini memperlihatkan kromosom yang sudah mulai memisah dan menuju ke arah dua kutub yang berlawanan.

sumber : www.life.uiuc.edu/ib/102/lectures/08reproduction.html

Fase selanjutnya yang ditemukan adalah telofase. Pada fase ini kromosom telah menyelesaikan pergerakannya menuju kutub dan mulai menyebar di dalam membran nukleus. Selama tahap ini berlangsung suatu dinding sel baru mulai terbentuk diantara dua nukleus baru (Wells dan Mogen, 1991). Dalam pengamatan, fase ini terlihat sel yang memiliki dua inti dengan dinding sel bagian tengah yang sudah mengalami sitokinesis.

sumber : www.life.uiuc.edu/ib/102/lectures/08reproduction.html

Fase yang tidak ditemukan pada pengamatan kali ini adalah metafase. Pada fase ini kromosom menyusun diri secara acak pada satu bidang ekuator atau tengah-tengah sel. Pada awal fase ini, membran nukleus dan nukleolus lenyap. Sentromer, suatu daerah vital bagi pergerakan kromosom, melekat pada serabut gelendong yang bertanggung jawab terhadap arah pembelahan kromosom selama pembelahan (Welsh dan Mogen 1991).


sumber : www.life.uiuc.edu/ib/102/lectures/08reproduction.html

Fase ini tidak dapat kami temukan dalam pengamatan kemungkinan karena waktu pemotongan akar yang kurang tepat, kekurangtelitian dalam pengamatan dan keterbatasan waktu.
sumber:http://aprilisa.wordpress.com/2010/03/31/pengamatan-fase-mitosis-pada-tudung-akar-bawang-merah-allium-cepa-l/

Fase mitosis akar bawang (Alium cepa)

Fase mitosis akar bawang (Alium cepa)

Mitosis adalah pembelahan sel yang terjadi secara tidak langsung (Setjo, 2004). Hal ini dikarenakan pada pembelahan sel secara mitosis terdapat adanya tahapan-tahapan tertentu. Tahapan-tahapan (fase-fase) yang terdapat pada pembelahan mitosis ini meliputi: profase, metafase, anafase, dan telofase.

Mitosis terjadi di dalam sel somatik yang bersifat meristematik, yaitu sel-sel yang hidup terutama sel-sel yang sedang tumbuh (ujung akar dan ujung batang). Proses pembelahan secara mitosis menghasilkan dua sel anak yang identik dan bertujuan untuk mempertahankan pasangan kromosom yang sama melalui pembelahan inti secara berturut-turut.

Mitosis pada tumbuhan terjadi selama mulai dari 30 menit sampai beberapa jam dan merupakan bagian dari suatu proses yang berputar dan terus-menerus. Pada praktikum kali ini digunakan akar bawang merah (Allium cepa) karena jaringan akar bawang merah (Allium cepa) merupaskan jaringan yang mudah ditelaah untuk pengamatan mitosis (Sugiri, 1992).

Proses mitosis ini terjadi bersama dengan pembelahan sitoplasma dan bahan-bahan di luar inti sel. Pada mitosis setiap induk yang diploid (2n) akan menghasilkan dua buah sel anakan yang masing-masing tetap diploid serta memiliki sifat keturunan yang sama dengan sel iduknya.

Urut-urutan terjadinya mitosis adalah sebagai berikut:

1. Profase

Proses terjadinya fase profase ditandai dengan hilangnya nucleus dan diganti dengan mulai tampaknya pilinan-pilinan kromosom yang terlihat tebal.

2. Metafase

Ciri utama fase ini adalah terbentuknya gelendong pembelahan, gelendong pembelahan ini dibentuk oleh mikrotubula. Gelendong ini membentuk kutub-kutb pembelahan tempat sentromer mikrotubula bertumpu.

3. Anafase

Pada fase ini kromosom yang mengumpul di tengah sel terpisah dan mengumpul pada masing-masing kutub, sehingga telihat adal dua kumpulan kromosom.

4. Telofase

Telofase adalah fase finisiong, dalam telofase ada dua tahap yaitu telofase awal dan telofase akhir. Pada telofase awal terlihat mulai ada sekat yang memisahkan antara sel-sel anak. Sedang pada telofase akhir terlihat sel-sel anak sudah benar-benar terpisah.



ALAT & BAHAN

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:

1. Alat: 2. Bahan

* Mikroskop cahaya o ujung akar bawang merah (Allium cepa)
* Kaca benda dan kaca penutup o Kertas hisap
* Pipet o Tisu
* Pinset o Alkohol 70 %
* Gelas arloji o FAA
* Silet berkarat o HCl 1 N
* Silet tajam o Acetocarmin
* Botol ampul
* Pembakar spiritus dan korek api
* Plastik dan karet



PROSEDUR KERJA


1. Tahap persiapan

Pada tahap persiapan ini adalah tahap penumbuhan akar bawang merah (Allium cepa) dan pemotongan akar bawang merah (Allium cepa). Penumbuhan akar dilakukan di dalam gelas p;lastik yang berisi air selama 1 minggu (7 hari), dengan cara menusuk bagian tengan bawang merah secara horizontal sedemikian rupa sehingga hanya bagian akarnya saja yang menyentuh air. Pemotongan ujung bawah akar dilakukan pada malam hari sebelum praktikum (Minggu) pukul 00.00-00.15. akar dipotong sepanjang 1 cm dari ujung dan selanjutnya akar direndam dalam botol ampul yang sudah diisi dengan larutan FAA, lalu botol ampul ditutup rapat dengan plastik dan diikat dengan karet.

2. Tahap pelaksanaan

Tahap pelaksanaan meliputi pembuatan preparat dan pengamatan fase-fase mitosis di bawah mikroskop. Untuk pembuatan preparat dilakukan dengan cara mengambil potongan ujung akar bawang merah (Allium cepa) dari botol ampul denagn pinset. Kemudian memindahkannya kedalam gelas arloji dan menambahkan alkohol 70 % dan dibiarkan terendam selama 2 menit.

Setelah 2 menit, alkohol 70 % dihisap dengan kertas hisap kemudian menambahkan larutan HCl 1 N dan merendamnya selama 5 menit. Setelah 5 menit berlalu, mengambil potongan akar bawang dari gelas arloji, memotong bagian ujung (tudung akar) dan meletakkannya pada kaca benda. Langkah selanjutnya yaitu ditetesi dengan larutan acetocarmin, lalu dicacah dengan silet berkarat kemudian ditutup dengan kaca penutup. Sebelum diamati di bawah mikroskop, preparat dilewatkan di atas lampu spiritus, selanjutnya menggilasnya dengan jempol atau ujung pensil yang tumpul, baru setelah itu diamati dibawah mikroskop.



ANALISIS DATA


Dari hasil pengamatan fase-fase mitosis pada akar bawang merah (Allium cepa) ini diperoleh beberapa fase, antara lain:

Anafase
Pada fase ini nampak kromosom-kromosom homolog saling berjauhan (berkumpul menuju kutub yang berlawanan). Kromosom nampak jelas mengalami penebalan sehingga dapat dilihat jelas dengan mikroskop cahaya sekalipun.

Telofase
Fase ini merupakan fase terakhir pada mitosis. Pada fase ini nampak adanya dinding pemisah yang berupa sekat yang belum sempurna yang memisahkan kromosom-kromosom yang telah mencapai kutub. Sekat belum sempurna dan sel belum benar-benar terpisah tetapi tanda akan terbentuknya dua sel sudah mulai tampak.

Telofase akhir
Pada fase ini sel benar-benar telah utuh. Dinding sel terlihat jelas dan kromosom yang tebal nampak berkumpul di tengah.




PEMBAHASAN


Pada ujung akar bawang merah banyak sel yang mengalami aktivitas dengan rentangan 5 menit sebelum dan sesudah pukul 24.00 WIB. (Margono, 1973), berdasarkan keterangan tersebut maka proses pemotongan akar bawang merah (Allium cepa) dilakukan pada pukul 00.00. Dengan dipotongnya akar bawang pada jam-jam tersebut sehingga diharapkan akan potongan akar yang mengandung banyak sel-sel yang sedang melakukan aktivitas mitosis. Namun kami tidak mungkin melakukan pengamatan pada tengah malam, jadi kami memasukkan potongan kar bawang tersebut ke dalam botol fial berisi FAA, fungsi dari FAA ini adalah untuk menghentikan aktivitas mitosis dan mempertahankan kondisi sel-sel akar bawang sebagaimana saat kami memotongnya.

Sebelum mengamati sel-sel akar tersebut dibawah mikroskop, potongan-potongan akar tersebut harus memalui beberapa perlakuan, yaitu harus direndam di dalam alcohol 70%, perendaman ini bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa FAA yang masih terdapat di dalam sel-sel akar bawang merah. Selain itu perendaman dengan alcohol bertujuan untuk menyegarkan kembali sel-sel akar bawang yang sudah semalaman dimasukkan kedalam botol fial berisi FAA.

Perlakuan berikutnya adalah perendaman dengan HCl, hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam memotong tudung akar bawang merah (Allium cepa), karena dengan pemberian HCl dapat memperjelas batas tudung akar dengan sel-sel diatasnya, tudung akar akan terlihat lebih putih dibandingkan bagian lain dari akar bawang merah(Allium cepa), pemberian HCl ini juga dapat melunakkan dinding sel sehingga memudahkan dalam memotong.

Perlakuan berikutnya lagi adalah pemberian acetocarmin, acetocarmin adalh pewarna, sehingga jelas fungsinya dalah untuk memberi pigmen kepada sel-sel akar bawang sehingga mudah untuk diamati. Tidak cukup dengan itu agar penyerapan warna lebih cepat maka perlu ditambahkan FeCl2, yang pada praktikum kemarin kami dapatkan dengan mencacah bahan amatan dengan menggunakan silet berkarat.

Pada saat pengamatan kami menemukan sel-sel yang sedang berda dalam fase Anafase, telofase awal dan telofase akhir. Pada sel yang sedang dalam fase Anafase terlihat jelas kromosom yang terkumpul pada kutub masing-masing dari sel tersebut. Pengamatan tersebut semakin menyakinkan kami setelah kami melihat model fase-fase pembelahan yag terdapat di ruang genetika.

Sel berikutnya yang kami amati adalah sel dengan sekat yang belum sempurna, sehingga kami simpulkan sel tersebut sedang dalam fase Telofase awal. Dan sel terakhir yang sempat kami amati memiliki ciri-ciri bagiannya sudah utuh, dinding selnya terlihat jelas dan kromosom terlihat mengumpul di tengah sehingga kami simpulkan sel tersebut berada dalam fase Telofase akhir.

Pengamatan sel-sel pembelahan mitosis ini kurang maksimal karena kungnya lat yang memadai, serta keterbatasan waktu, yang sebenarnya juga karena kami tidak cepat tanggap. Sebenarnya banyak fase-fase lain yang belum sempat teramati.



DISKUSI


Alasan penggunaan akar pada praktikum kali ini adalah antara lain karena akar merupakan salah satu jaringan yang sel-sel penyusunnya adalah sel-sel somatik, khusus pada ujung akar bersifat meristematik. Mitosis merupakan pembelahan sel yang umumnya terjadi pada sel-sel yang hidup terutama sel-sel yang sedang tumbuh, dan dan sel-sel ini umnya terdapat pada ujung akar dan ujung batang tumbuhan. Hal inilah yang melatarbelakangi digunakannya akar dalam praktikum mitosis ini.

a. Alasan pemotongan akar bawang merah dilakukan pada pukul 00.00 adalah karena mitosis pada akar bawang merah terjadi pada jam-jam tersebut. Proses itosis pada tanaman umumnya terjadi selama antara 30 menit sampai beberapa jam dan merupakan bagian dari suatau proses yang berputar dan terus-menerus (melalui fase-fase yang terus berjalan) dan pada akar bawang merah (Allium cepa) ini mitosis terjadi mulai pukul 00.00

b. Tidak, tidak semua tanaman mitosisnya terjadi pada malam hari, waktu terjadinya mitosis tergantung pada spesies tanaman yang bersangkutan. Contohnya tumbuhan paku, mitosis pada tumbuhan paku tidak terjadi pada malam hari, melainkan siang hari.

c. (Mungkin) Tidak, karena mitosis pada tumbuhan terjadi selama 30 menit sampai beberapa jam dan merupakan suatu proses yang berputar dan terus-menerus. Setelah mengalami fase mitosisinti yang dalam keadaan tidak membelah berada dalam stadium interfase dan fase ini berlangsung dalam tempo yang cukup lama.


sumber:http://biologi.unnes.ac.id/web_bio/?tf=news&aksi=lihat&id=35

Mitosis pada akar bawang merah (Allium cepa)

Mitosis pada akar bawang merah (Allium cepa)
1. Pendahuluan

1.1 latar belakang

Tumbuhan pada masa awal perkembangan mengalami pertumbuhan sangat banyak, tumbuhan mengalami pembelahan sel secara tidak langsung yang disebut juga dengan mitosis (setjo, 2004), mitosis adalah pembelahan duplikasi dimana sel memproduksi dirinya sendiri dengan jumlah kromosom sel induk. Mitosis mempertahankan pasangan kromosom yang sama melalui pembelahan inti dari sel somatis secara berturut turut. Peristiwa ini terjadi bersama-sama dengan pembelahan sitoplasma dan bahan-bahan di luar inti sel dan memiliki peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan hampir semua organisme. mitosis memiliki beberapa tahapan meliputi profase metafase, anafase, dan telofase.

Terjadi pada ujung akar, yang mengalami pembelahan awal. mitosis terjadi dalam sel somatik yang bersifat meristematik, yaitu sel-sel yang hidup terutama yang sedang tumbuh (ujung akar dan ujung batang), mitosis pada tumbuhan terjadi selama mulai dari 30 menit sampai beberapa jam dan merupakan bagian dari suatu proses yang berputar dan terus menerus.

Proses mitosis ini terjadi bersama dengan pembelahan sitoplasma dan bahan-bahan di luar inti sel. Pada mitosis setiap induk yang diploid (2n) akan menghasilkan dua buah sel anakan yang masing-masing tetap diploid serta memiliki sifat keturunan yang sama dengan sel iduknya.

1.2 tujuan

Mengetahui macam-macam fase yang terjadi pada akar bawang merah (Alium cepa)

1. Kajian pustaka

Profase

Proses terjadinya fase profase ditandai dengan hilangnya nucleus dan diganti dengan mulai tampaknya pilihan-pilihan kromosom yang terlihat tebal.

Metafase

Ciri utama fase ini adalah terbentuknya gelomdong pembelahan, gelendong pembelahan ini dibentuk oleh mikrotubula. Gelendong ini membentuk kutub-kutub pembelahan tempat setromer mikrotubula bertumpu.

Anafase

Pada fase ini kromosom yang mengumpul di tengah sel terpisah dan mengumpul pada masing-masing kutub, sehingga telihat adal dua kumpulan kromosom.

Telofase

Telofase adalah fase finisiong, dalam telofase ada dua tahap yaitu telofase awal dan telofase akhir. Pada telofase awal terlihat mulai ada sekat yang memisahkan antara sel-sel anak. Sedang pada telofase akhir terlihat sel-sel anak sudah benar-benar terpisah.

1. Metode kerja

Mengambil beberapa potong akar bawang yang sudah siapkan dengn ukuran 1cm dr tudung akar

(yang sebelumnya telah disiapkan dalam larutan FAA)



Letakkan dalam gelas arloji



Diberi beberapa tetes alkohol 70%, dan diamkan selama 2 menit



Bersihkan alkohol 70 % dengan kertas hisap hingga bersih. Gantikan dengan HCl 1 M dan diamkan selama 5 menit



Mengambil akar, dan meletakkan di atas kaca benda



Memotong bagian tudung akarnya dengan silet berkarat



Memberi 1-2 tetes larutan acetocarmin, dan dicacah dengan silet berkarat hingga warna larutan berubah



Menutup dengan kaca penutup, di pencet dengan pensil gilig



Mengamati di bawah mikroskop, jika tidak terlihat lewatkan di atas api




Daftar pustaka

Setjo, Susetyoadi. 2004. Anatomi Tumbuihan. Malang: JICA.

Margono, Hadi. 1973. Pengaruh Colchicine terhadap pertumbuhan Memanjang Akar Bawang Merah (Alium cepa). Skripsi tidak diterbitkan. Malang: IKIP

Crowder, L. V. 1998. Genetika tumbuhan. Yoyakarta: gajah mada universitas press.

sumber:http://anugrahjuni.wordpress.com/biologi-in/mitosis-pada-akar-bawang-merah-allium-cepa/

TANAMAN TRANSGENIK

Tanaman Transgenik

Sumber: zunia.org

Berdasarkan definisi umum, penggunaan ilmu biologi untuk mengembangkan produk tanaman konvensional dan teknik budidaya ternak dilakukan sejak awal peradaban sebelum bioteknologi ada. Dalam teks-teks populer, bioteknologi umumnya mengacu pada metode ilmiah yang baru dikembangkan untuk digunakan membuat produk dengan mengubah susunan genetik dari organisme dan menghasilkan individu yang unik atau sifat-sifat yang tidak mudah diperoleh melalui teknik pemuliaan konvensional. Produk ini sering disebut sebagai transgenik, rekayasa genetika, atau modifikasi secara genetik karena mereka mengandung bahan genetik asing. Pertanian adalah salah satu industri pertama yang secara radikal dipengaruhi oleh teknologi baru ini, baik pada tingkat produksi dasar dan hukum ( NCALRI, 2000).

Gen adalah segmen DNA yang berisi informasi dimana terdapat bagian yang menen- tukan fungsi penting sebuah organisme hidup. Perekayasa genetik memanipulasi DNA, biasanya dengan mengambil gen dari suatu spesies, seperti hewan, tanaman, bakteri, atau virus dan memasukkan mereka ke spesies lain, seperti tanaman pertanian. Sebuah organisme antara atau virus dapat digunakan untuk “menginfeksi” DNA inang dengan bahan genetik yang diinginkan. Teknologi pengeboman mikropartikel juga banyak digunakan secara luas untuk menyalurkan asam nukleat eksogen (DNA dari spesies lain) ke dalam sel tanaman. Bahan genetik yang diinginkan diendapkan ke dalam partikel logam berukuran mikron dan ditempatkan dalam suatu perangkat yang dirancang untuk mempercepat (microcarrier) untuk mendapatkan kecepatan yang diperlukan untuk menembus dinding sel tumbuhan. Dengan cara ini, transgen dapat disalurkan ke genom sel. Sebuah DNA baru dapat juga disisipkan ke dalam sel inang menggunakan elektroporasi, di mana suatu sentakan listrik dite-rapkan pada sel-sel untuk menciptakan bukaan di membran plasma yang mengelilingi sel. Sebuah penanda gen (biasanya resisten terhadap antibiotik) termasuk dalam paket untuk memferifikasi tingkat efektifitas dalam memperkenalkan DNA asing. Susunan gen kemudian menjadi normal pada umumnya dengan tercampur pada sifat organisme inang. Seluruh proses dapat digambarkan pada aplikasi dalam rekayasa beras transgenik yang menggunakan elektro porasi ( Stierle, 2006).

Dengan munculnya rekayasa genetika tanaman sekitar tahun 1983, tampak bahwa manipulasi transgenik mungkin bermanfaat dan bahkan merupakan revolusi dibidang pertanian. Pentransferan sifat genetik yang diinginkan ke suatu spesies mengalami hambatan telah dia- tasi dengan potensi yang menjanjikan untuk dapat memecahkan masalah dalam pengelolaan tanaman pertanian, memberikan kemungkinan baru untuk meningkatkan kesehatan manusia dan hewan, dan memberikan sumber pendapatan baru bagi petani melalui kontrak produksi tanaman farmasi dan industri ( ESCOP/ECOP, 2000).

Potensi keuntungan lingkungan termasuk mengurangi penggunaan pestisida beracun, meningkatkan pengendalian gulma sehingga mengurangi pengolahan tanah dan erosi tanah serta konservasi air. Selain itu, teknologi baru ini djanjikan akan meningkatkan hasil produk pertanian. Tanaman transgenik juga dapat dipatenkan. Persetujuan teknologi atau rekayasa akan menjamin benih yang tidak dapat disimpan selama waktu tanam tahun depan. Hak kekayaan intelektual bagi para pengembang telah dilindungi dimana telah menawarkan potensi untuk meningkatkan keuntungan dan secara teoritis mendapatkan monopoli atas pasokan benih transgenik (Schahczenski & Adam, 2006).

Langkah-langkah elektroporasi dan metode transfer gen lainnya:

1). Melakukan skuensing pada DNA untuk gen yang akan diubah diidentifikasi dan diperoleh dari organisme donor (bakteri). Skuensing ini dapat dilakukan dengan mengacu pada informasi yang diketahui berkaitan dengan urutan dari gen yang akan dipilih.Selanjutnya diikuti dengan pemindahan gen dari organisme donor.

2). Gen yang diinginkan dikeluarkan dari organisme donor melalui penggunaan enzim spesifik yang dikenal sebagai enzim restriksi.

3). Gen yang diinginkan kemudian dipolimer melalaui polimerase chain reaction (PCR), yaitu metode untuk memperkuat DNA dan menghasilkan sejumlah gen yang bisa diterapkan.

4). Setelah diperoleh, ada beberapa cara untuk mentransfer gen donor ke dalam sel organisme target. Pada beras, digunakan proses yang lebih canggih. Pada proses elektroporasi ini, dimana enzim khusus pendenaturasi dinding sel melepaskan dinding sel dari selnya. Kemudian sel-sel akan menjadi protoplas, yaitu sel-sel tumbuhan yang dilucut dinding selnya tetapi masih dilapisi membran selular. Tahap elektroporasi berikutnya, yaitu dikejutkan dengan listrik tegangan tinggi melalui larutan yang mengandung protoplas. Kejutan listrik ini menyebabkan membran untuk sementara tidak stabil dengan membentuk pori-pori kecil. Melalui pori-pori sementara ini, DNA gen donor dapat disuntikkan. DNA diinjeksikan dalam bentuk transfer plasmid yang dipindahkan ke kromosom dan menjadi satu dalam DNA tanaman. Tidak lama setelah pemberian kejutan listrik dan injeksi, sel membran terbentuk kembali. Dinding sel juga terbentuk kembali melalui proses pembalikan.

5). Sel-sel yang baru saja diubah tersebut kemudian dikultur untuk menghasilkan jenis sel yang unik yang membentuk organisme.

6). Sel-sel yang dihasilkan kemudian dipindahkan ke dalam lingkungan pertumbuhan biasa di mana gen baru akan diekspresikan ( Bromley, no date ).

Mengapa kita menggunakan Tanaman transgenik?

Tanaman ini dimodifikasi untuk alasan tertentu selama bertahun-tahun, namun tujuan yang paling umum adalah untuk menghasilkan produk terbaik. Setelah adanya teknologi DNA rekombinan, memungkinkan untuk menghasilkan beberapa produk yang lebih baik, meskipun sangat sulit untuk melakukan itu dan banyak hal-hal yang tidak dapat diperbaiki atau diubah. Sebuah produk yang lebih baik mungkin terjadi perubahan warna atau ukuran tanaman, sehingga menjadi lebih menarik bagi pembeli. Atau mungkin lebih praktis yang memung-kinkan toleransi terhadap penurunan suhu, embun beku, atau kekeringan; semua ini membuat tanaman lebih mudah tumbuh dalam lingkungan yang selalu berubah (Gasser dan Fraley, 1989). Tujuan seperti ini tidak mungkin tercapai dengan program seleksi tradisional sehingga transgenik sekarang lebih disukai ketika mencoba mendapatkan produk baru untuk meningkatkan penjualan. Salah satu aspek yang utma adalah modifikasi tanaman untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangga dan penyakit (Chawla HS, 2000).

Laporan dari Benbrook: Tanaman rekayasa genetik dan Penggunaan Pestisida di Amerika Serikat: (1996-2004) Rekayasa genetika utama (GE) pada varietas tanaman komersial sejak tahun 1996 di Amerika Serikat telah dirancang untuk membantu mengendalikan kelas serangga yang merusak dan menyederhanakan sistem pengelolaan gulma herbisida berbasis. Selama sembilan tahun pertama pemakaian komersial, 670,000,000 hektar tanaman yang mengekspresikan sifat GE yang telah ditanam, atau sekitar 23 persen dari 2.970 juta hektar total tanaman yang dipanen di seluruh negeri selama periode ini.

Tanaman rekayasa ini digunakan untuk mentolerir aplikasi herbisida, atau apa yang disebut tanaman “herbicide-tolerant” (HT) menjelaskan jumlah hektar terbesar GE. Sekitar 487,000,000 hektar telah ditanam sejak tahun 1996, atau 73 persen dari total hektar tanaman GE. Kedelai toleran herbisida adalah tanaman teknologi GE yang paling banyak ditanam dan jumlah selama lebih dari setengah total hektar ditanami varietas GE sejak tahun 1996. Sebagian besar tanaman HT yang direkayasa untuk mentolerir glifosat (nama dagang “Roundup,” atau disebut sebagai “Roundup Ready”), herbisida yang diintroduksi ke pasar pada tahun1972 oleh Monsanto.

Jagung dan kapas telah rekayasa secara genetika untuk mengekspresikan toksin bakteri Bacillus thuringiensis, atau Bt. Sifat ini memungkinkan tanaman transgenik untuk memproduksi dalam sel mereka suatu protein kristal yang beracun bagi serangga Lepidopteran (ngengat dan kupu-kupu). Beberapa 183,000,000 hektar jagung transgenik dan kapas Bt telah ditanam sejak tahun 1996, mewakili 27 persen dari total areal tanaman GE. ( Benbrook, 2004).

Manfaat tanaman transgenik selain hasil panen meningkat dan nilai gizi dapat diperbaiki, tanaman ini didesain untuk:

1). Dapat bertahan hidup pada paparan herbisida tertentu (disebut toleran herbisida, atau HT).

2). Dapat membunuh hama serangga tertentu ( disebut pesticidal or insecticidal). Misalnya, tomat transgenik didesain untuk memiliki umur panjang. Tidak jelas apakah peningkatan beta-karoten pada (Golden Rice) transgenik (berasal dari bakung) merupakan bentuk yang dapat digunakan untuk nutrisi pada manusia, terutama untuk lemak dan protein ( Grains of Delusion, 2001).

Tanaman transgenik toleran herbisida yang telah diubah untuk bertahan terhadap semprotan herbisida dengan spektrum yang luas dengan gagasan bahwa dengan aplikasi ini akan membasmi sebagian besar jenis gulma tanpa membunuh tanaman itu sendiri. Tanaman insektisidal mengandung gen dari bakteri tanah Bacillus thuringiensis (Bt). Gen Bt ini menyebabkan tanaman untuk menghasilkan zat kimia beracun yang membunuh penggerek jagung Eropa, ulat kapas, dan ulat lain. (Ulat merupakan larva serangga dalam ordo Lepidoptera termasuk ngengat dan kupu-kupu) (Schahczenski & Adam, 2006).

Selain dapat meningkatkan ketahanan terhadap penyakit dan serangga juga mengurangi kebutuhan herbisida dan pestisida. Hal ini membuat tanaman lebih aman bagi konsumen dan memungkinkan petani untuk menghema uang untuk pembelian obat-obatan kimia. Sebagai kesimpulan, tanaman transgenik adalah suatu metoda yang secara ekonomis lebih aman menghasilkan produk tanaman dan membuat mereka menarik dan berpotensi menguntungkan (Pighin, 2003).

Bagaimana Pembuatan Tanaman transgenik?

Usaha pemuliaan tanaman selama bertahun-tahun untuk pemilihan tanaman yang terbaik. Pada saat ini, variasi terjadi melalui mutasi induksi atau hibridisasi di mana dua atau lebih tanaman disilangkan. Seleksi terjadi secara alami, menggunakan konsep pilihan “siapa yang kuat, dia yang menang”, di mana hanya biji yang beradaptasi lebih baik dengan lingkungan yang akan berhasil hidup. Sebagai contoh, petani hanya memilih biji benih yang terbesar dengan asumsi ini menjadi yang terbaik. Sekarang para ilmuwan tidak hanya dapat memilih, tetapi juga menciptakan tanaman dengan menyisipkan gen untuk membuat benih gundul dengan sifat yang diinginkan.

Untuk membuat tanaman transgenik, ada lima langkah utama: ekstraksi DNA, kloning gen yang penting, merancang gen untuk infiltrasi tanaman, transformasi, dan akhirnya pemuliaan tanaman (Gambar 1).


Gambar: hanggawe tnduran transgenik

Sumber: www.msu.edu

Untuk memahami proses ini, pertama harus mengetahui sedikit tentang DNA (asam deoksiribonukleat). DNA adalah bahasa pemrograman universal semua sel dan menyimpan informasi genetik mereka. DNA berisi ribuan gen dimana segmen-segmen DNA yang menyandikan informasi yang diperlukan untuk memproduksi dan merakit protein spesifik. Semua gen membutuhkan daerah tertentu untuk digunakan (atau diekspresikan) oleh sel. Wilayah ini meliputi (Gambar 2):
1. Wilayah promotor, yaitu tempat di mana gen dimulai dan digunakan untuk ekspresi gen;
2. Urutan terminasi yang menandai akhiran gen;
3. Dan daerah pengkode yang berisi gen sebenarnya untuk diekspresikan.

Semua daerah ini bersama-sama memungkinkan gen untuk membuat protein. Setelah gen ditranskripsi menjadi protein, kemudian dapat berfungsi sebagai enzim untuk mengkatalisis reaksi biokimia atau sebagai unit struktural dari sel, keduanya yang akan memberikan kontribusi munculnya suatu sifat tertentu dalam organisme itu.


Gambar: pangene gen iki looo

Sumber: static.howstuffworks.com

Semua spesies mampu mengubah DNA menjadi protein melalui proses yang dikenal sebagai translasi. Kemampuan ini memungkinkan untuk menempatkan gen secara artifisial dari satu organisme ke organisme. Jika hanya mengisolasi DNA secara acak dan memasukkan ke dalam organisme lain tidaklah praktis. Pertama-tama kita harus tahu segmen tertentu pada DNA dan khususnya gen yang dicari yang digunakan untuk disisipkan. Sayangnya, referensi untuk memproduksi tanaman baru tidak banyak yang diketahui tentang gen yang bertanggung jawab untuk hasil tanaman meningkat, toleransi terhadap tekanan yang berbeda dan serangga, warna, atau karakteristik berbagai tanaman lainnya. Banyak penelitian transgenik sekarang terfokus pada cara mengidentifikasi dan menentukan urutan gen yang berkontribusi terhadap karakteristik ini.

Gen yang ditentukan untuk memberikan kontribusi sifat tertentu maka perlu didapatkan dalam jumlah yang signifikan sebelum mereka dapat disisipkan ke dalam organisme lain. Untuk mendapatkan DNA yang terdiri dari gen, DNA pertama-tama diekstrak dari sel dan dimasukkan ke dalam plasmid bakteri. Plasmid merupakan alat biologi molekuler yang memungkinkan setiap segmen DNA dapat dimasukkan ke dalam sel pembawa (biasanya sel bakteri) dan direplikasi untuk menghasilkan lebih banyak. Sebuah sel bakteri (misal, E. coli) yang berisi plasmid dapat disisipi dan digunakan berulang kali untuk menghasilkan salinan gen yang pentin bagi peneliti, sebuah proses yang umumnya disebut sebagai “kloning” gen. Kata “kloning” mengacu pada berapa banyak salinan identik gen asli yang sekarang dapat diproduksi secapatnya. Plasmid yang mengandung gen ini dapat digunakan untuk memodifikasi gen dengan cara apapun sesuai keinginan peneliti yang memungkinkan terjadinya pengaruh pada sifat gen yang dihasilkan (Gambar 1).

Setelah gen yang diinginkan telah diamplifikasi, sekarang saatnya untuk mengintroduksi ke dalam spesies tumbuhan kita inginkan. Inti sel tanaman adalah target untuk DNA transgenik baru. Ada banyak metode untuk melakukan ini, tetapi dua metode yang paling umum termasuk “Gene Gun” dan metode Agrobacterium. Metode “Gene Gun” juga dikenal sebagai metode penembakan proyektil mikro merupakan yang paling umum digunakan pada spesies seperti jagung dan padi. Seperti namanya, prosedur ini melibatkan kecepatan tinggi mikroproyektil untuk mentransfer DNA ke dalam sel-sel hidup dengan menggunakan penembak (Chawla, 2000). DNA ditempatkan pada mikro proyektil kecil dan kemudian proyektil ditembakan ke dalam sel. Teknik ini bersih dan aman. Ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengubah jaringan terorganisir pada spesies tumbuhan dan memiliki sistem pengiriman universal umum untuk berbagai jenis jaringan pada berbagai species. Hal ini dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan, seperti gen yang penting mrnjadi tidak teratur pada saat masuk atau mengalami kerusakan sel target pada saat penembakan. Namun demikian, sudah cukup berguna untuk mendapatkan transgen sebagai organisme ketika tidak ada pilihan lain yang tersedia.

Metode Agrobacterium melibatkan penggunaan bakteri tanah dikenal sebagai Agrobacterium tumefaciens yang memiliki kemampuan untuk menginfeksi sel-sel tumbuhan dengan sepotong DNA-nya. Potongan DNA yang menginfeksi tanaman terintegrasi ke dalam kromosom tanaman melalui tumor-inducing plasmid (Ti plasmid) yang dapat mengontrol system selular tanaman dan menggunakannya untuk membuat banyak salinan DNA bakterinya sendiri. Ti plasmid adalah partikel DNA besar berbentu lingkaran yang mereplikasi secara independen dari kromosom bakteri (Gambar 3) (Chawla, 2000).


Gambar: carane Agrobacterium Sp. ngene lo ngewehi gen neng wet-wetan

Sumber: www.nature.com

Pentingnya plasmid ini adalah mengandung daerah transfer DNA (tDNA) di mana seorang peneliti dapat menyisipkan sebuah gen yang dapat ditransfer ke dalam sel tumbuhan melalui proses yang dikenal sebagai floral dip. Sebuah floral dip melibatkan perendaman tanaman berbunga ke dalam campuran Agrobacterium yang membawa gen diinginkan, diikuti oleh benih transgenik yang dikumpulkan langsung dari tanaman. Proses ini berguna karena itu adalah metode transfer alami dan karena itu dianggap sebagai teknik yang lebih diterima. Selain itu, Agrobacterium mampu mentransfer DNA berfragmen besar sehingga sangat efisien tanpa penataan ulang substansial, diikuti dengan kemampuan mempertahankan stabilitas yang tinggi dari gen yang ditransfer. Salah satu keterbatasan Agrobacterium adalah bahwa tidak semua tanaman pangan penting dapat terinfeksi oleh bakteri ini.

Apa Keuntungan dan Kerugian Tanaman transgenik?

Dalam penggunaan tanaman transgenik telah menjadi masalah selama bertahun-tahun. Banyak kekhawatiran yang telah diajukan dan umumnya berasal dari dua kategori:

1. Perhatian padaa bahan genetik yang diubah dapat mempengaruhi pada kesehatan manusia.Sebagai contoh, tanaman transgenik telah diberitakan menyebabkan alergi pada beberapa orang, meskipun tidak pasti apakah tanaman transgenik merupakan sumber reaksi ini. Selain itu, gen resistensi antibiotik ditempatkan dalam tanaman ini telah dinyatakan menyebabkan resistensi terhadap antibiotik menyebabkan super bug yang tidak dapat diobati dengan perawatan antibiotik (Ferber, 1999). Gagasan dari suatu populasi terguncang dengan menelan DNA yang berasal dari sumber lain, seperti virus atau bakteri, juga harus dipertimbangkan ketika berpikir tentang memproduksi tanaman transgenik. Namun, sampai saat ini, tidak ada bukti bahwa DNA dari tanaman transgenik yang berbeda tertelan oleh tanaman konvensional.

2. Kekhawatiran tentang apakah tanaman transgenik menyebabkan kerusakan lingkungan alam. Salah satu contoh serbuk sari dari jagung transgenik yang telah dinyatakan membunuh larva kupu-kupu Monarch. Telah ditunjukkan bahwa jagung hibrida menghasilkan racun bakteri dalam serbuk sarinya yang kemudian tersebar lebih dari 60 meter oleh angin. Dalam jangkauan ini, serbuk sari jagung menumpuk pada tanaman lain di dekat ladang jagung di tempat yang dapat dimakan oleh organisme non-target termasuk kupu-kupu raja ini. Kupu-kupu ini telah ditemuka yang menkonsumsi itu, memiliki laju pertumbuhan lebih lambat dan tingkat kematian yang lebih tinggi (Losey et al, 1999). Contoh kedua adalah hibridisasi tanaman dengan gulma di dekatnya. Hal ini dapat menyebabkan gulma mendapat ketahanan terhadap herbisida atau hal-hal lain yang telah kita usahakan untuk dihindari selama bertahun-tahun. Gen yang memberikan perlawanan terhadap penyakit virus atau karakter lain yang memungkinkan mereka untuk bertahan di lingkungan mereka bisa musnah akibat populasi rumput sekitar tanaman. Sifat ini dapat membuat populas lebih sulit dikendalikan. Untuk saat ini, ada sedikit bukti untuk mendukung teori ini (Crawley et al, 2001).

Di sisi lain adalah pengertian yang mendukung penggunaan tanaman transgenik. Potensi manfaat yang cukup jelas, termasuk hal-hal seperti hasil meningkat (untuk memberi makanan pada populasi yang tumbuh), mengurangi penggunaan pestisida (untuk menyelamatkan lingkungan dan biaya pestisida), dan produksi tanaman (seperti menyediakan tanaman dengan nilai gizi meningkat) (Ferber, 1999). Mampu mendapatkan retrofit dari tanaman apapun untuk keinginan kita adalah sebuah konsep yang kuat, terutama dengan perubahan iklim saat ini.

Haruskah Kita Gunakan Tanaman transgenik?

Pada akhirnya, keuntungan yang dirasakan dan kerugian dari tanaman transgenik harus digabungkan satu sama lain untuk menyediakan tanaman yang ramah lingkungan dan tidak berbahaya. Produsen tanaman transgenik dan badan-badan yang mempelajari pengaruh mereka sadar akan hal ini. Namun, sampai saat ini, ada sedikit bukti untuk mendukung kedua kasus tersebut. Diperlukan penelitian lebih lanjut dalam bidang ini untuk menentukan keamanan tanaman ini dan untuk memutuskan apakah mereka aman bagi lingkungan dan bagi mereka yang mengkonsumsi produk ini selama berabad-abad. Setidaknya, sebagian besar akan setuju bahwa potensi keunggulan menghasilkan tanaman yang menyediakan bagi populasi manusia dan sumber makan lebih murah membuat penemuan teknologi transgenik menjadi berguna.

Sumber : http://wahjuneutron.blog.uns.ac.id/2010/10/20/molecular-biology-tanaman-transgenik/

lombok

Cabai
Capsicum annum L.
Nama umum
Indonesia: Cabai, cabe merah, lombok gede (Jawa), cabe (Sunda),
Inggris: chili pepper
Pilipina: Siling Haba
Cina: la jiao
Capsicum annum
Cabai

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus: Capsicum
Spesies: Capsicum annum L.
sumber ;http://www.plantamor.com/index.php?plant=271

Cabai rawit
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Cabai rawit
Cabai rawit
Cabai rawit
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
(tidak termasuk) Eudicots
(tidak termasuk) Asterids
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae
Genus: Capsicum
Spesies: Frutescens

Cabai rawit atau cabe rawit, adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Selain di Indonesia, ia juga tumbuh dan populer sebagai bumbu masakan di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Di Malaysia dan Singapura ia dinamakan cili padi, di Filipina siling labuyo, dan di Thailand phrik khi nu. Di Kerala, India, terdapat masakan tradisional yang menggunakan cabai rawit dan dinamakan kanthari mulagu. Dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan nama Thai pepper atau bird's eye chili pepper.

Buah cabai rawit berubah warnanya dari hijau menjadi merah saat matang. Meskipun ukurannya lebih kecil daripada varitas cabai lainnya, ia dianggap cukup pedas karena kepedasannya mencapai 50.000 - 100.000 pada skala Scoville. Cabai rawit biasa di jual di pasar-pasar bersama dengan varitas cabai lainnya.

Terdapat peribahasa Indonesia "kecil-kecil cabe rawit" (Malaysia: kecil-kecil cili padi), yang artinya kecil-kecil tapi pemberani.
sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Cabai_rawit

terong

Terung
Solanum melongena L.
Nama umum
Indonesia: Terung, terong
Inggris: Eggplant, aubergine, brinjal
Melayu: Terong
Vietnam: Ca tim, ca tin
Thailand: Makhua
Pilipina: Talong
Cina: qie zi
Jepang: Daimaru nasu
Solanum melongena
Terung

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus: Solanum
Spesies: Solanum melongena L.Terung


Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Plantae

Kelas: Magnoliopsida

Upakelas: Asteridae

Ordo: Solanales

Famili: Solanaceae

Genus: Solanum

Spesies: S. melongena

Nama binomial

Solanum melongena
L.
sumber: http://www.plantamor.com/index.php?plant=1167


Terung (Solanum melongena, di Pulau Jawa lebih dikenal sebagai terong) adalah tumbuhan penghasil buah yang dijadikan sayur-sayuran. Asalnya adalah India dan Sri Lanka[1][2]. Terung berkerabat dekat dengan kentang dan leunca, dan agak jauh dari tomat.
Terung ialah terna yang sering ditanam secara tahunan. Tanaman ini tumbuh hingga 40-150 cm (16-57 inci) tingginya. Daunnya besar, dengan lobus yang kasar. Ukurannya 10-20 cm (4-8 inci) panjangnya dan 5-10 cm (2-4 inci) lebarnya. Jenis-jenis setengah liar lebih besar dan tumbuh hingga setinggi 225 cm (7 kaki), dengan daun yang melebihi 30 cm (12 inci) dan 15 cm (6 inci) panjangnya. Batangnya biasanya berduri. Warna bunganya antara putih hingga ungu, dengan mahkota yang memiliki lima lobus. Benang sarinya berwarna kuning. Buah tepung berisi, dengan diameter yang kurang dari 3 cm untuk yang liar, dan lebih besar lagi untuk jenis yang ditanam.
Dari segi botani, buah yang dikelaskan sebagai beri memiliki banyak biji yang kecil dan lembut. Biji itu dapat dimakan tetapi rasanya pahit karena mengandung nikotin, sejenis alkaloid yang banyak dikandung tembakau.
Sejarah
Terung ialah tumbuhan pangan yang ditanam untuk buahnya. Asal-usul budidayanya berada di bagian selatan dan timur Asia sejak zaman prasejarah, tetapi baru dikenal di dunia Barat tidak lebih awal dari sekitar tahun 1500. Buahnya mempunyai berbagai warna, terutama ungu, hijau, dan putih. Catatan tertulis yang pertama tentang terung dijumpai dalam Qí mín yào shù, sebuah karya pertanian Tiongkok kuno yang ditulis pada tahun 544[3]. Banyaknya nama bahasa Arab dan Afrika Utara untuk terong serta kurangnya nama Yunani dan Romawi menunjukkan bahwa pohon ini dibawa masuk ke dunia Barat melewati kawasan Laut Tengah oleh bangsa Arab pada awal Abad Pertengahan. Nama ilmiahnya, Solanum melongena, berasal dari istilah Arab abad ke-16 untuk sejenis tanaman terung.
Karena terung merupakan anggota Solanaceae, buah terung pernah dianggap beracun, sebagaimana buah beberapa varietas leunca dan kentang. Sementara buah terung dapat dimakan tanpa dampak buruk apa pun bagi kebanyakan orang, sebagian orang yang lain, memakan buah terung (serupa dengan memakan buah terkait seperti tomat, kentang, dan merica hijau atau lada) bisa berpengaruh pada kesehatan. Sebagian buah terung agak pahit dan mengiritasi perut serta mengakibatkan gastritis. Karena itulah, sebagian sumber, khususnya dari kalangan kesehatan alami, mengatakan bahwa terung dan genus terkait dapat mengakibatkan atau memperburuk artritis dengan kentara dan justru itu, harus dijauhi oleh mereka yang peka terhadapnya.[4]
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Terung

Rabu, 01 Desember 2010

TOMAT

Tomat
?Tomat


Penampang melintang dari tomat yang matang
Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Plantae

(tidak termasuk) Eudicots

Ordo: Solanales

Famili: Solanaceae

Genus: Solanum

Spesies: S. lycopersicum

Nama binomial

Solanum lycopersicum
L.

Sinonim

Lycopersicon lycopersicum
Lycopersicon esculentum
Tomat (Solanum lycopersicum syn. Lycopersicum esculentum) adalah tumbuhan dari keluarga Solanaceae, tumbuhan asli Amerika Tengah dan Selatan, dari Meksiko sampai Peru. Tomat merupakan tumbuhan siklus hidup singkat, dapat tumbuh setinggi 1 sampai 3 meter. Tomat merupakan keluarga dekat dari kentang.
Kata "tomat" berasal dari kata dalam bahasa Nahuatl, tomatl (dieja: /tɔ.matɬ/).
Sejarah
Menurut tulisan karangan Andrew F. Smith "The Tomato in America", tomat kemungkinan berasal dari daratan tinggi pantai barat Amerika Selatan. Setelah Spanyol menguasai Amerika Selatan, mereka menyebarkan tanaman tomat ke koloni-koloni mereka di Karibia. Spanyol juga kemudian membawa tomat ke Filipina, yang menjadi titik awal penyebaran ke daerah lainnya di seluruh benua Asia. Spanyol juga membawa tomat ke Eropa. Tanaman ini tumbuh dengan mudah di wilayah beriklim Mediterania.
Macam
Terdapat ratusan kultivar tomat yang dibudidayakan dan diperdagangkan. Pengelompokan hampir selalu didasarkan pada penampilan atau kegunaan buahnya.
Berdasarkan penampilan
Terdapat buah tomat dengan kisaran warna dari hijau ketika masak, kuning, jingga, merah, ungu (hitam), serta belang-belang.
Dari ukuran dan bentuk[1], orang mengenal kelompok tomat
• granola yang bentuknya bulat dengan pangkal buah mendatar dan mencakup yang biasanya dikenal sebagai tomat buah (karena dapat dimakan langsung),
• gondol yang biasa dibuat saus dengan bentuk lonjong oval (biasanya yang ditanam di Indonesia adalah kultivar 'Gondol Hijau' dan 'Gondol Putih', dan keturunan dari kultivar impor 'Roma') dan termasuk pula tomat buah,
• sayur adalah tomat dengan buah biasanya padat dan dipakai untuk diolah dalam masakan
• ceri (tomat ranti) yang berukuran kecil dan tersusun berangkai pada tangkai buah yang panjang.
Berdasarkan kegunaan
Orang mengenal tomat buah, tomat sayur, serta tomat lalapan. Berdasarkan hal ini, fungsi tomat merupakan klasifikasi dari buah maupun sayuran, walaupun struktur tomat adalah struktur buah.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Tomat