Budidaya Tanaman Organik Secara Vertikultur (2009)
I. PENDAHULUAN
Sistem pertanian vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Sementara itu, vertikultur organik adalah budidaya tanaman secara vertikal dengan menggunakan sarana media tanam, pupuk, dan pestisida berasal dari bahan organik non kimiawi. Sistem vertikultur merupakan solusi atau jawaban bagi yang berminat dalam budidaya tanaman namun memiliki ruang atau lahan sangatterbatas. Kelebihan sistem pertanian vertikultur: (1) Efisiensi dalam penggunaan lahan. (2) Penghematan pemakaian pupuk dan pestisida. (3) Dapat dipindahkan dengan mudah karena tanaman diletakkan dalam wadah tertentu. (4) Mudah dalam hal monitoring/pemeliharaan tanaman. Namun demikian, sistem budidaya vertikultur juga memiliki kelemahan, yaitu: (1) Investasi awal cukup tinggi. (2) Sistem penyiraman harus kontinyu serta memerlukan beberapa peralatan tambahan, misalnya tangga sebagai alat bantu penyiraman, dll.
Jenis tanaman yang dapat ditanam dengan sistem ini sangat banyak, misalnya a) tanaman sayur semusim (sawi,selada, kubis, wortel, tomat, terong, cabai dan lain-lainnya), b) tanaman bunga seperti anggrek, mawar, melati, azalea, kembang sepatu, dll; dan c) tanaman obat-obatan yang sekulen.
Terdapat tiga aspek yang harus dipersiapkan dalam budidaya tanaman organik secara vertikultur, yaitu: (1) Pembuatan rak vertikultur. (2) Penyiapan dan penggunaan pupuk organik. (3) Penanaman dan pemeliharaan. Pada tulisan ini akan dipaparkan ketiga aspek tersebut secara singkat dan jelas.
II. PEMBUATAN RAK VERTIKULTUR
Pelaksanaan vertikultur dapat menggunakan bangunan khusus (modifikasi dari sistem green house) maupun tanpa bangunan khusus, misalnya di pot gantung dan penempelan di tembok-tembok. Wadah tanaman sebaiknya disesuaikan dengan bahan yang banyak tersedia di pasar lokal. Bahan yang dapat digunakan, misalnya kayu, bambu, pipa paralon, pot, kantong plastik dan gerabah. Bentuk bangunan dapat dimodifikasi menurut kreativitas dan lahan yang tersedia. Yang penting perlu diketahui lebih dahulu adalah karakteristik tanaman yang ingin dibudidayakan sehingga kita dapat merancang sistemnya dengan benar.
2.1. Pembuatan Unit Vertikultur dari Bambu atau Paralon
2.2. Pembuatan Unit Vertikultur Sistem Rak
2.3. Penyiapan Media Tanam
III. PENYIAPAN DAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK
3.1. Penyiapan Pupuk Organik
3.2. Penggunaan Pupuk Organik
IV. PENYIAPAN PESTISIDA ORGANIK
Pestisida organik di pasaran saat ini cukup banyak pilihannya. Adapula yang disebut pestisida hayati dimana isinya adalah mikroba antagonis. Pestisida organik yang akan digunakan bisa langsung dibeli di pasaran atau disiapkan sendiri. Berikut terdapat beberapa resep pembuatan pestisida nabati.
4.1. Ekstrak Daun Nimba, Tembakau, Brotowali
4.2. Ekstrak Daun Sirsak
4.3. Ekstrak Sirtem (Sirih dan Tembakau)
4.4. Ekstrak Belengse (Nimba, Lengkuas, Serai)
4.5. Ekstrak Gatem (Gadung dan Tembakau)
V. PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN TANAM
Pada dasarnya ada tiga tahap dalam proses ini, yaitu persemaian, pemindahan, dan penanaman. Seperti halnya menanam, menyemaikan benih juga memerlukan wadah dan media tanam. Wadah diisi media tanam seperlunya dan memiliki lubang di bagian bawah untuk mengeluarkan kelebihan air. Jumlah benih yang dapat disemaikan disesuaikan dengan ukuran wadahnya, dalam hal ini jarak tanam benih diatur sedemikian rupa agar tidak berdempetan.
Sumber: http://jakarta.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=130:budidaya-tanaman-organik-secara-vertikultur-&catid=11:brosur&Itemid=34
Vertikultur
Rabu, 07 April 2010 13:19 Administrator
Vertikultur adalah sistem tanam di dalam pot yang disusun/dirakit horisontal dan vertikal atau bertingkat. Cara tanam ini sesuai diusahakan pada lahan terbatas atau halaman rumah. Jenis tanaman adalah tanaman hias atau sayuran. Beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam budidaya tanaman secara vertikultur antara lain :
• Pot tempat tumbuh tanaman dapat menggunakan bahan bambu atau peralon.
• Media tumbuh tanaman.
• Jenis tanaman yang akan ditanam.
Sumber: http://jateng.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=252:vertikultur&catid=15:benih
me....
semoga yang ada di blog ini dapat membantu ✿◠‿◠
Senin, 29 November 2010
MINYAK DAN LEMAK
SIFAT-SIFAT LEMAK DAN MINYAK
« on: January 28, 2010, 02:37:07 pm »
________________________________________
a. Sifat-sifat fisika Lemak dan Minyak diantaranya adalah:
1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil-amin dari lecitin
2. Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatu kamar
3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia dan untuk pengujian kemurnian minyak.
4. Minyak/lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (coastor oil0, sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter,karbon disulfida dan pelarut halogen.
5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang rantai karbon
6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami ,juga terjadi karena asam-asam yang berantai sangat pendek sebaggai hasil penguraian pada kerusakan minyak atau lemak.
7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak atau minyak dengan pelarut lemak.
8. Titik lunak dari lemak/minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan minyak/lemak
9. Shot melting point adalah temperratur pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak / lemak
10.Slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta pengaruh kehadiran komponen-komponennya
sumber : http://forum.upi.edu/v3/index.php?topic=15643.0
MINYAK DAN LEMAK
Lemak/minyak merupakan asam karboksilat/asam alkanoat jenuh alifatis (tidak terdapat ikatan rangkap C=C dalam rantai alkilnya, rantai lurus, panjang tak bercabang) dengan gugus utama –COOH dalam bentuk ester/gliserida yaitu sesuatu jenis asam lemak atau beberapa jenis asam lemak dengan gliserol suku tinggi.
Sifat alkanoat atau asam karboksilat (spec. Oil & Grease, Lipida, dsb.)
Asam – asam alifatis :
1. C1 – C10 berwujud cair
2. >C10 berwujud padat
3. Titik didih naik dengan kenaikan MR. (massa atom relatif)
4. Asam – asam suku rendah baunya keras.
5. Membentuk ikatan hidrogen
6. Kelarutan dalam air bertambah dengan bertambahnya MR.
Jenis Lemak Minyak
Ikatan rangkap Sedikit Banyak
Titik leleh Tinggi Rendah
Wujud Padat Cair
Sumber Umumnya dari hewani Umumnya dari tumbuhan
Reaktifitas Tidak mudah tengik Mudah tengik
Tabel : Perbedaan minyak dengan lemak.
Rumus lemak :
CH3(CH2)14COOH : Asam Palmitat
CH3(CH2)16COOH : Asam Stearat
Rumus minyak :
CH3(CH2)7CH = CH(CH2)7 COOH : Asam Oleat
CH3(CH2)4 CH = CHCH2CH = CH(CH2)7 COOH : Asam Linoleat
CH3CH2CH = CHCH2CH = CHCH2CH = CH(CH2)7 COOH : Asam Linolenat
Lemak adalah suatu gliserida dan merupakan suatu ester. Apabila ester ini bereaksi dengan basa maka akan terjadi saponifikasi yaitu proses terbentuknya sabun dengan residu gliserol. Sabun dalam air akan bersifat basa. Sabun ( R COONa atau R COOK ) mempunyai bagian yang bersifat hidrofil (- COO -) dan bagian yang bersifat hidrofob (R – atau alkil). Bagian karboksil menuju air dan menghasilkan buih (kecuali pada air sadah), sedangkan alkil (R -) menjauhi air dan membelah molekul atau kotoran (flok) menjadi partikel yang lebih kecil sehingga air mudah membentuk emulsi atau suatu lapisan film dengan kotoran. Air adalah senyawa polar sedangkan minyak adalah senyawa non polar, jadi keduanya sukar bercampur oleh karena itu emulsinya mudah pecah. Untuk memantapkan suatu emulsi perlu ditambahkan suatu zat emulgator atau zat pemantap, antara lain ;
1. Ca Butirat, Ethanol.
2. Senyawa pembentuk sel liofil,protein, gum, dan gelatin.
3. Garam Fe, BaOH, SO4, Fe(OH)SO4, PbSO4, Fe2O3, Tanah liat, CaCO3, dll.
Minyak tanah dan minyak pelumas adalah derivat dari minyak residu dan batu bara yang berisikan karbon dan nitrogen. Minyak bisa sampai ke perairan sebagai limbah. Sebagian besar lemak mengapung di dalam air limbah, akan tetapi ada juga yang mengendap terbawa oleh lumpur.
Asam lemak, bersama-sama dengan gliserol, merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak masak (goreng), margarin, atau lemak hewan dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida.
Perbandingan model asam stearat (C18:0, atas), asam oleat (C18:1, tengah), dan asam α-linolenat (C18:3, bawah). Posisi cis pada ikatan rangkap dua mengakibatkan melengkungnya rantai dan mengubah perilaku fisik dan kimiawi ketiga asam lemak ini. Pelengkungan tidak terjadi secara nyata pada ikatan rangkap dengan posisi trans.
Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6). Karena berguna dalam mengenal ciri-cirinya, asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan tunggal di antara atom-atom karbon penyusunnya, sementara asam lemak tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan ganda di antara atom-atom karbon penyusunnya.
Asam lemak merupakan asam lemah, dan dalam air terdisosiasi sebagian. Umumnya berfase cair atau padat pada suhu ruang (27° Celsius). Semakin panjang rantai C penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga semakin sukar larut.
Asam lemak jenuh bersifat lebih stabil (tidak mudah bereaksi) daripada asam lemak tak jenuh. Ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh mudah bereaksi dengan oksigen (mudah teroksidasi). Karena itu, dikenal istilah bilangan oksidasi bagi asam lemak.
Keberadaan ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh menjadikannya memiliki dua bentuk: cis dan trans. Semua asam lemak nabati alami hanya memiliki bentuk cis (dilambangkan dengan “Z”, singkatan dari bahasa Jerman zusammen). Asam lemak bentuk trans (trans fatty acid, dilambangkan dengan “E”, singkatan dari bahasa Jerman entgegen) hanya diproduksi oleh sisa metabolisme hewan atau dibuat secara sintetis. Akibat polarisasi atom H, asam lemak cis memiliki rantai yang melengkung. Asam lemak trans karena atom H-nya berseberangan tidak mengalami efek polarisasi yang kuat dan rantainya tetap relatif lurus.
Ketengikan (rancidity) terjadi karena asam lemak pada suhu ruang dirombak akibat hidrolisis atau oksidasi menjadi hidrokarbon, alkanal, atau keton, serta sedikit epoksi dan alkohol (alkanol). Bau yang kurang sedap muncul akibat campuran dari berbagai produk ini. Asam lemak, bersama-sama dengan gliserol, merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak masak (goreng), margarin, atau lemak hewan dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida.
Kelarutannya dalam air yang sangat kecil dengan densitas yang rendah mengakibatkan minyak sukar mengendap. Adanya penambahan koagulan dengan kandungan alkali (basicity) akan mengendapkan karboksilat dengan hasil samping busa. Adanya unsur karbon lain sebagai gugus organik akan mengakibatkan bertambahnya rantai karbon sehingga menjadi lewat jenuh membentuk ikatan rantai suku tinggi sehingga menggumpal dengan flok yang berdensitas rendah yang akan terapung di permukaan fluida fasa cair berbentuk granula yang akan mengganggu estetika dan proses filtrasi.
Sumber: http://smk3ae.wordpress.com/2008/07/17/minyak-dan-lemak/
Minyak
Struktur trigliserilda dengan gliserol sebagai rantai utama
Minyak adalah istilah umum untuk semua cairan organik yang tidak larut/bercampur dalam air (hidrofobik) tetapi larut dalam pelarut organik.[1] Ada sifat tambahan lain yang dikenal awam: terasa licin apabila dipegang.[1] Dalam arti sempit, kata 'minyak' biasanya mengacu ke minyak bumi (petroleum) atau produk olahannya: minyak tanah (kerosena).[1] Namun demikian, kata ini sebenarnya berlaku luas, baik untuk minyak sebagai bagian dari menu makanan (misalnya minyak goreng), sebagai bahan bakar (misalnya minyak tanah), sebagai pelumas (misalnya minyak rem), sebagai medium pemindahan energi, maupun sebagai wangi-wangian (misalnya minyak nilam).[1]
Minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform (CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya yang polaritasnya sama.[1]
Minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti “triester dari gliserol”.[1] Jadi minyak juga merupakan senyawaan ester.[1] Hasil hidrolisis minyak adalah asam karboksilat dan gliserol.[1] Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang.[1]
Jenis-jenis minyak
Dilihat dari asalnya terdapat dua golongan besar minyak: minyak yang dihasilkan tumbuh-tumbuhan (minyak nabati) dan hewan (minyak hewani), dan minyak yang diperoleh dari kegiatan penambangan (minyak bumi).[2]
Minyak tumbuhan dan hewan
Minyak tumbuhan dan hewan semuanya merupakan lipid.[2] Dari sudut pandang kimia, minyak kelompok ini sama saja dengan lemak.[2] Minyak dibedakan dari lemak berdasarkan sifat fisiknya pada suhu ruang: minyak berwujud cair sedangkan lemak berwujud padat<.[2] Penyusunnya bermacam-macam, tetapi yang banyak dimanfaatkan orang hanya yang tersusun dari dua golongan saja[2]:
• Gliserida dan atau asam lemak, yang mencakup minyak makanan (minyak masak atau minyak sayur serta minyak ikan), bahan baku industri sabun, bahan campuran minyak pelumas, dan bahan baku biodiesel. Golongan ini biasanya berwujud padat atau cair pada suhu ruang tetapi tidak mudah menguap.
• Terpena dan terpenoid, yang dikenal sebagai minyak atsiri, atau minyak eteris, atau minyak esensial (bukan asam lemak esensial!) dan merupakan bahan dasar wangi-wangian (parfum) dan minyak gosok. Golongan ini praktis semuanya berasal dari tumbuhan, dan dianggap memiliki khasiat penyembuhan (aromaterapi).[3]. Kelompok minyak ini memiliki aroma yang kuat karena sifatnya yang mudah menguap pada suhu ruang (sehingga disebut juga minyak "aromatik").
Beberapa minyak tumbuhan lainnya yang banyak digunakan[4]:
• Minyak ikan, kaya DHA, baik untuk kerja otak
• Margarin, bentuk padat karena perubahan cis menjadi trans
• Biodiesel, bahan akar ramah lingkungan
Minyak bumi
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Minyak bumi
Minyak bumi merupakan campuran berbagai macam zat organik, tetapi komponen pokoknya adalah hidrokarbon[5]. Minyak bumi disebut juga minyak mineral karena diperoleh dalam bentuk campuran dengan mineral lain.[5] Minyak bumi tidak dihasilkan dan didapat secara langsung dari hewan atau tumbuhan, melainkan dari fosil.[5] Karena itu, minyak bumi dikatakan sebagai salah satu dari bahan bakar fosil.[5] Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa minyak bumi merupakan zat abiotik, yang berarti zat ini tidak berasal dari fosil tetapi merupakan zat anorganik yang dihasilkan secara alami di dalam bumi.[2] Namun, pandangan ini diragukan secara ilmiah karena hanya memiliki sedikit bukti yang mendukung.[5]
Analisis untuk Lemak dan Minyak
Jenis-jenis lemak dan minyak dapat dibedakan berdasarkan sifat-sifatnya.[1] Pengujian sifat-sifat lemak dan minyak ini meliputi[2]:
• angka penyabunan
• angka ester
• angka iodin
• angka Reichert Meissel
Pengujian untuk menentukan kualitas minyak, seperti[2]:
• angka asam
• angka peroksida
• angka asam thiobarbiturat (TBA)
• kadar minyak
Pengolahan minyak
Minyak yang dijumpai di pasaran dapat berupa zat murni, tetapi umumnya adalah larutan/campuran.[2] Proses pengolahan minyak murni (penyulingan / kilang minyak) biasanya mencakup pemisahan dari bahan-bahan residu diikuti dengan pendinginan (kondensasi).[5] Proses pencampuran dengan bahan-bahan tertentu jika diperlukan dapat dilakukan setelahnya.[5]
Dalam pembentukkan minyak, enzim denaturase akan membantu memasukkan ikatan rangkap pada posisi tertentu di rantai asam lemak.[5] Enzim akan terus bekerja berurutan hingga menghasilkan produk akhir yaitu minyak.[3]
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak
LEMAK DAN MINYAK
Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid , yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar,misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform(CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelaut tersebut.
Bahan-bahan dan senyawa kimia akan mudah larut dalam pelarut yang sama polaritasnya dengan zat terlarut . Tetapi polaritas bahan dapat berubah karena adanya proses kimiawi. Misalnya asam lemak dalam larutan KOH berada dalam keadaan terionisasi dan menjadi lebih polar dari aslinya sehingga mudah larut serta dapat diekstraksi dengan air. Ekstraksi asam lemak yang terionisasi ini dapat dinetralkan kembali dengan menambahkan asam sulfat encer (10 N) sehingga kembali menjadi tidak terionisasi dan kembali mudah diekstraksi dengan pelarut non-polar.
Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti “triester dari gliserol” . Jadi lemak dan minyak juga merupakan senyawaan ester . Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan gliserol . Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang.
1. Penamaan lemak dan Minyak
Lemak dan minyak sering kali diberi nama derivat asam-asam lemaknya, yaitu dengan cara menggantikan akhiran at pada asam lemak dengan akhira in , misalnya :
- tristearat dari gliserol diberi nama tristearin
- tripalmitat dari gliserol diberi nama tripalmitin
selain itu , lemak dan minyak juga diberi nama dengan cara yang biasa dipakai untuk penamaan suatu ester, misalnya:
- triestearat dari gliserol disebut gliseril tristearat
- tripalmitat dari gliserol disebut gliseril tripalmitat
2. Pembentukan Lemak dan Minyak
Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida dari gliserol . Dalam pembentukannya, trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak (umumnya ketiga asam lemak tersebut berbeda –beda), yang membentuk satu molekul trigliserida dan satu molekul air .
2002 digitized by USU digital library 1
O O
CH 2OH R 1COH CH 2OCR1
O O
CHOH + R 2C OH CHO C R2 + 3 H 2O
O O
CH2 OH R 3C OH CH 2 O CR2
Gliserol asam lemak trigliserida
Bila R1=R2=R3 , maka trigliserida yang terbentuk disebut trigliserida sederhana (simple triglyceride), sedangkan bila R1, R2,R3, berbeda , maka disebut trigliserida campuran (mixed triglyceride).
3. Klasifikasi Lemak dan Minyak
Lemak dan minyak dapat dibedakan berdasarkan beberapa penggolongan, yaitu:
3.1 Berdasarkan kejenuhannya (ikatan rangkap) :
3.1.1. Asam lemak jenuh
Tabel 1. Contoh-contoh dari asam lemak jenuh, antara lain:
Nama asam
Struktur
Sumber
Butirat
Palmitat
stearat
CH3(CH2)2CO2H
CH3(CH2)14CO2H
CH3(CH2)16CO2H
Lemak susu
Lemak hewani dan nabati
Lemak hewani dan nabati
3.1.2 Asam lemak tak jenuh
Tabel 2. Contoh-contoh dari asam lemak tak jenuh, antara lain:
Nama asam
Struktur
Sumber
Palmitoleat
Oleat
Linoleat
linolenat
CH3(CH2)5CH=CH(CH2)7CO2H
CH3(CH2)7CH=CH(CH2) 7CO2H
CH3(CH2)4CH=CHCH2CH=CH(CH2)7CO2H
CH3CH2CH=CHCH2CH=CHCH2=CH
(CH2) 7CO2H
Lemak hewani dan nabati
Lemak hewani dan nabati
Minyak nabati
Minyak biji rami
Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung ikatan tunggal pada rantai hidrokarbonnya. Asam lemak jenuh mempunyai rantai zig-zig yang dapat cocok satu sama lain, sehingga gaya tarik vanderwalls tinggi, sehingga biasanya berwujud padat. Sedangkan asam lemak tak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung satu ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya . asam lemak dengan lebih dari satu ikatan dua tidak lazim,terutama terdapat pada minyak nabati,minyak ini disebut poliunsaturat. Trigliserida tak jenuh ganda (poliunsaturat) cenderung berbentuk minyak.
2002 digitized by USU digital library 2
Kegunaan Lemak dan Minyak
Lemak dan minyak merupakan senyawaan organik yang penting bagi kehidupan makhluk hidup.adapun lemak dan minyak ini antara lain:
1. Memberikan rasa gurih dan aroma yang spesipek
2. Sebagai salah satu penyusun dinding sel dan penyusun bahan-bahan biomolekul
3. Sumber energi yang efektif dibandingkan dengan protein dan karbohidrat,karena lemak dan minyak jika dioksidasi secara sempurna akan menghasilkan 9 kalori/liter gram lemak atau minyak. Sedangkan protein dan karbohidrat hanya menghasilkan 4 kalori tiap 1 gram protein atau karbohidrat.
4. Karena titik didih minyak yang tinggi, maka minyak biasanya digunakan untuk menggoreng makanan di mana bahan yang digoreng akan kehilangan sebagian besar air yang dikandungnya atau menjadi kering.
5. Memberikan konsistensi empuk,halus dan berlapis-lapis dalam pembuatan roti.
6. Memberikan tektur yang lembut dan lunakl dalam pembuatan es krim.
7. Minyak nabati adalah bahan utama pembuatan margarine
8. Lemak hewani adalah bahan utama pembuatan susu dan mentega
9. Mencegah timbulnya pen
« on: January 28, 2010, 02:37:07 pm »
________________________________________
a. Sifat-sifat fisika Lemak dan Minyak diantaranya adalah:
1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil-amin dari lecitin
2. Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatu kamar
3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia dan untuk pengujian kemurnian minyak.
4. Minyak/lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (coastor oil0, sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter,karbon disulfida dan pelarut halogen.
5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang rantai karbon
6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami ,juga terjadi karena asam-asam yang berantai sangat pendek sebaggai hasil penguraian pada kerusakan minyak atau lemak.
7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak atau minyak dengan pelarut lemak.
8. Titik lunak dari lemak/minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan minyak/lemak
9. Shot melting point adalah temperratur pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak / lemak
10.Slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta pengaruh kehadiran komponen-komponennya
sumber : http://forum.upi.edu/v3/index.php?topic=15643.0
MINYAK DAN LEMAK
Lemak/minyak merupakan asam karboksilat/asam alkanoat jenuh alifatis (tidak terdapat ikatan rangkap C=C dalam rantai alkilnya, rantai lurus, panjang tak bercabang) dengan gugus utama –COOH dalam bentuk ester/gliserida yaitu sesuatu jenis asam lemak atau beberapa jenis asam lemak dengan gliserol suku tinggi.
Sifat alkanoat atau asam karboksilat (spec. Oil & Grease, Lipida, dsb.)
Asam – asam alifatis :
1. C1 – C10 berwujud cair
2. >C10 berwujud padat
3. Titik didih naik dengan kenaikan MR. (massa atom relatif)
4. Asam – asam suku rendah baunya keras.
5. Membentuk ikatan hidrogen
6. Kelarutan dalam air bertambah dengan bertambahnya MR.
Jenis Lemak Minyak
Ikatan rangkap Sedikit Banyak
Titik leleh Tinggi Rendah
Wujud Padat Cair
Sumber Umumnya dari hewani Umumnya dari tumbuhan
Reaktifitas Tidak mudah tengik Mudah tengik
Tabel : Perbedaan minyak dengan lemak.
Rumus lemak :
CH3(CH2)14COOH : Asam Palmitat
CH3(CH2)16COOH : Asam Stearat
Rumus minyak :
CH3(CH2)7CH = CH(CH2)7 COOH : Asam Oleat
CH3(CH2)4 CH = CHCH2CH = CH(CH2)7 COOH : Asam Linoleat
CH3CH2CH = CHCH2CH = CHCH2CH = CH(CH2)7 COOH : Asam Linolenat
Lemak adalah suatu gliserida dan merupakan suatu ester. Apabila ester ini bereaksi dengan basa maka akan terjadi saponifikasi yaitu proses terbentuknya sabun dengan residu gliserol. Sabun dalam air akan bersifat basa. Sabun ( R COONa atau R COOK ) mempunyai bagian yang bersifat hidrofil (- COO -) dan bagian yang bersifat hidrofob (R – atau alkil). Bagian karboksil menuju air dan menghasilkan buih (kecuali pada air sadah), sedangkan alkil (R -) menjauhi air dan membelah molekul atau kotoran (flok) menjadi partikel yang lebih kecil sehingga air mudah membentuk emulsi atau suatu lapisan film dengan kotoran. Air adalah senyawa polar sedangkan minyak adalah senyawa non polar, jadi keduanya sukar bercampur oleh karena itu emulsinya mudah pecah. Untuk memantapkan suatu emulsi perlu ditambahkan suatu zat emulgator atau zat pemantap, antara lain ;
1. Ca Butirat, Ethanol.
2. Senyawa pembentuk sel liofil,protein, gum, dan gelatin.
3. Garam Fe, BaOH, SO4, Fe(OH)SO4, PbSO4, Fe2O3, Tanah liat, CaCO3, dll.
Minyak tanah dan minyak pelumas adalah derivat dari minyak residu dan batu bara yang berisikan karbon dan nitrogen. Minyak bisa sampai ke perairan sebagai limbah. Sebagian besar lemak mengapung di dalam air limbah, akan tetapi ada juga yang mengendap terbawa oleh lumpur.
Asam lemak, bersama-sama dengan gliserol, merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak masak (goreng), margarin, atau lemak hewan dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida.
Perbandingan model asam stearat (C18:0, atas), asam oleat (C18:1, tengah), dan asam α-linolenat (C18:3, bawah). Posisi cis pada ikatan rangkap dua mengakibatkan melengkungnya rantai dan mengubah perilaku fisik dan kimiawi ketiga asam lemak ini. Pelengkungan tidak terjadi secara nyata pada ikatan rangkap dengan posisi trans.
Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6). Karena berguna dalam mengenal ciri-cirinya, asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan tunggal di antara atom-atom karbon penyusunnya, sementara asam lemak tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan ganda di antara atom-atom karbon penyusunnya.
Asam lemak merupakan asam lemah, dan dalam air terdisosiasi sebagian. Umumnya berfase cair atau padat pada suhu ruang (27° Celsius). Semakin panjang rantai C penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga semakin sukar larut.
Asam lemak jenuh bersifat lebih stabil (tidak mudah bereaksi) daripada asam lemak tak jenuh. Ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh mudah bereaksi dengan oksigen (mudah teroksidasi). Karena itu, dikenal istilah bilangan oksidasi bagi asam lemak.
Keberadaan ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh menjadikannya memiliki dua bentuk: cis dan trans. Semua asam lemak nabati alami hanya memiliki bentuk cis (dilambangkan dengan “Z”, singkatan dari bahasa Jerman zusammen). Asam lemak bentuk trans (trans fatty acid, dilambangkan dengan “E”, singkatan dari bahasa Jerman entgegen) hanya diproduksi oleh sisa metabolisme hewan atau dibuat secara sintetis. Akibat polarisasi atom H, asam lemak cis memiliki rantai yang melengkung. Asam lemak trans karena atom H-nya berseberangan tidak mengalami efek polarisasi yang kuat dan rantainya tetap relatif lurus.
Ketengikan (rancidity) terjadi karena asam lemak pada suhu ruang dirombak akibat hidrolisis atau oksidasi menjadi hidrokarbon, alkanal, atau keton, serta sedikit epoksi dan alkohol (alkanol). Bau yang kurang sedap muncul akibat campuran dari berbagai produk ini. Asam lemak, bersama-sama dengan gliserol, merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak masak (goreng), margarin, atau lemak hewan dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida.
Kelarutannya dalam air yang sangat kecil dengan densitas yang rendah mengakibatkan minyak sukar mengendap. Adanya penambahan koagulan dengan kandungan alkali (basicity) akan mengendapkan karboksilat dengan hasil samping busa. Adanya unsur karbon lain sebagai gugus organik akan mengakibatkan bertambahnya rantai karbon sehingga menjadi lewat jenuh membentuk ikatan rantai suku tinggi sehingga menggumpal dengan flok yang berdensitas rendah yang akan terapung di permukaan fluida fasa cair berbentuk granula yang akan mengganggu estetika dan proses filtrasi.
Sumber: http://smk3ae.wordpress.com/2008/07/17/minyak-dan-lemak/
Minyak
Struktur trigliserilda dengan gliserol sebagai rantai utama
Minyak adalah istilah umum untuk semua cairan organik yang tidak larut/bercampur dalam air (hidrofobik) tetapi larut dalam pelarut organik.[1] Ada sifat tambahan lain yang dikenal awam: terasa licin apabila dipegang.[1] Dalam arti sempit, kata 'minyak' biasanya mengacu ke minyak bumi (petroleum) atau produk olahannya: minyak tanah (kerosena).[1] Namun demikian, kata ini sebenarnya berlaku luas, baik untuk minyak sebagai bagian dari menu makanan (misalnya minyak goreng), sebagai bahan bakar (misalnya minyak tanah), sebagai pelumas (misalnya minyak rem), sebagai medium pemindahan energi, maupun sebagai wangi-wangian (misalnya minyak nilam).[1]
Minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform (CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya yang polaritasnya sama.[1]
Minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti “triester dari gliserol”.[1] Jadi minyak juga merupakan senyawaan ester.[1] Hasil hidrolisis minyak adalah asam karboksilat dan gliserol.[1] Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang.[1]
Jenis-jenis minyak
Dilihat dari asalnya terdapat dua golongan besar minyak: minyak yang dihasilkan tumbuh-tumbuhan (minyak nabati) dan hewan (minyak hewani), dan minyak yang diperoleh dari kegiatan penambangan (minyak bumi).[2]
Minyak tumbuhan dan hewan
Minyak tumbuhan dan hewan semuanya merupakan lipid.[2] Dari sudut pandang kimia, minyak kelompok ini sama saja dengan lemak.[2] Minyak dibedakan dari lemak berdasarkan sifat fisiknya pada suhu ruang: minyak berwujud cair sedangkan lemak berwujud padat<.[2] Penyusunnya bermacam-macam, tetapi yang banyak dimanfaatkan orang hanya yang tersusun dari dua golongan saja[2]:
• Gliserida dan atau asam lemak, yang mencakup minyak makanan (minyak masak atau minyak sayur serta minyak ikan), bahan baku industri sabun, bahan campuran minyak pelumas, dan bahan baku biodiesel. Golongan ini biasanya berwujud padat atau cair pada suhu ruang tetapi tidak mudah menguap.
• Terpena dan terpenoid, yang dikenal sebagai minyak atsiri, atau minyak eteris, atau minyak esensial (bukan asam lemak esensial!) dan merupakan bahan dasar wangi-wangian (parfum) dan minyak gosok. Golongan ini praktis semuanya berasal dari tumbuhan, dan dianggap memiliki khasiat penyembuhan (aromaterapi).[3]. Kelompok minyak ini memiliki aroma yang kuat karena sifatnya yang mudah menguap pada suhu ruang (sehingga disebut juga minyak "aromatik").
Beberapa minyak tumbuhan lainnya yang banyak digunakan[4]:
• Minyak ikan, kaya DHA, baik untuk kerja otak
• Margarin, bentuk padat karena perubahan cis menjadi trans
• Biodiesel, bahan akar ramah lingkungan
Minyak bumi
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Minyak bumi
Minyak bumi merupakan campuran berbagai macam zat organik, tetapi komponen pokoknya adalah hidrokarbon[5]. Minyak bumi disebut juga minyak mineral karena diperoleh dalam bentuk campuran dengan mineral lain.[5] Minyak bumi tidak dihasilkan dan didapat secara langsung dari hewan atau tumbuhan, melainkan dari fosil.[5] Karena itu, minyak bumi dikatakan sebagai salah satu dari bahan bakar fosil.[5] Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa minyak bumi merupakan zat abiotik, yang berarti zat ini tidak berasal dari fosil tetapi merupakan zat anorganik yang dihasilkan secara alami di dalam bumi.[2] Namun, pandangan ini diragukan secara ilmiah karena hanya memiliki sedikit bukti yang mendukung.[5]
Analisis untuk Lemak dan Minyak
Jenis-jenis lemak dan minyak dapat dibedakan berdasarkan sifat-sifatnya.[1] Pengujian sifat-sifat lemak dan minyak ini meliputi[2]:
• angka penyabunan
• angka ester
• angka iodin
• angka Reichert Meissel
Pengujian untuk menentukan kualitas minyak, seperti[2]:
• angka asam
• angka peroksida
• angka asam thiobarbiturat (TBA)
• kadar minyak
Pengolahan minyak
Minyak yang dijumpai di pasaran dapat berupa zat murni, tetapi umumnya adalah larutan/campuran.[2] Proses pengolahan minyak murni (penyulingan / kilang minyak) biasanya mencakup pemisahan dari bahan-bahan residu diikuti dengan pendinginan (kondensasi).[5] Proses pencampuran dengan bahan-bahan tertentu jika diperlukan dapat dilakukan setelahnya.[5]
Dalam pembentukkan minyak, enzim denaturase akan membantu memasukkan ikatan rangkap pada posisi tertentu di rantai asam lemak.[5] Enzim akan terus bekerja berurutan hingga menghasilkan produk akhir yaitu minyak.[3]
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak
LEMAK DAN MINYAK
Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid , yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar,misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform(CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelaut tersebut.
Bahan-bahan dan senyawa kimia akan mudah larut dalam pelarut yang sama polaritasnya dengan zat terlarut . Tetapi polaritas bahan dapat berubah karena adanya proses kimiawi. Misalnya asam lemak dalam larutan KOH berada dalam keadaan terionisasi dan menjadi lebih polar dari aslinya sehingga mudah larut serta dapat diekstraksi dengan air. Ekstraksi asam lemak yang terionisasi ini dapat dinetralkan kembali dengan menambahkan asam sulfat encer (10 N) sehingga kembali menjadi tidak terionisasi dan kembali mudah diekstraksi dengan pelarut non-polar.
Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti “triester dari gliserol” . Jadi lemak dan minyak juga merupakan senyawaan ester . Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan gliserol . Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang.
1. Penamaan lemak dan Minyak
Lemak dan minyak sering kali diberi nama derivat asam-asam lemaknya, yaitu dengan cara menggantikan akhiran at pada asam lemak dengan akhira in , misalnya :
- tristearat dari gliserol diberi nama tristearin
- tripalmitat dari gliserol diberi nama tripalmitin
selain itu , lemak dan minyak juga diberi nama dengan cara yang biasa dipakai untuk penamaan suatu ester, misalnya:
- triestearat dari gliserol disebut gliseril tristearat
- tripalmitat dari gliserol disebut gliseril tripalmitat
2. Pembentukan Lemak dan Minyak
Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida dari gliserol . Dalam pembentukannya, trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak (umumnya ketiga asam lemak tersebut berbeda –beda), yang membentuk satu molekul trigliserida dan satu molekul air .
2002 digitized by USU digital library 1
O O
CH 2OH R 1COH CH 2OCR1
O O
CHOH + R 2C OH CHO C R2 + 3 H 2O
O O
CH2 OH R 3C OH CH 2 O CR2
Gliserol asam lemak trigliserida
Bila R1=R2=R3 , maka trigliserida yang terbentuk disebut trigliserida sederhana (simple triglyceride), sedangkan bila R1, R2,R3, berbeda , maka disebut trigliserida campuran (mixed triglyceride).
3. Klasifikasi Lemak dan Minyak
Lemak dan minyak dapat dibedakan berdasarkan beberapa penggolongan, yaitu:
3.1 Berdasarkan kejenuhannya (ikatan rangkap) :
3.1.1. Asam lemak jenuh
Tabel 1. Contoh-contoh dari asam lemak jenuh, antara lain:
Nama asam
Struktur
Sumber
Butirat
Palmitat
stearat
CH3(CH2)2CO2H
CH3(CH2)14CO2H
CH3(CH2)16CO2H
Lemak susu
Lemak hewani dan nabati
Lemak hewani dan nabati
3.1.2 Asam lemak tak jenuh
Tabel 2. Contoh-contoh dari asam lemak tak jenuh, antara lain:
Nama asam
Struktur
Sumber
Palmitoleat
Oleat
Linoleat
linolenat
CH3(CH2)5CH=CH(CH2)7CO2H
CH3(CH2)7CH=CH(CH2) 7CO2H
CH3(CH2)4CH=CHCH2CH=CH(CH2)7CO2H
CH3CH2CH=CHCH2CH=CHCH2=CH
(CH2) 7CO2H
Lemak hewani dan nabati
Lemak hewani dan nabati
Minyak nabati
Minyak biji rami
Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung ikatan tunggal pada rantai hidrokarbonnya. Asam lemak jenuh mempunyai rantai zig-zig yang dapat cocok satu sama lain, sehingga gaya tarik vanderwalls tinggi, sehingga biasanya berwujud padat. Sedangkan asam lemak tak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung satu ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya . asam lemak dengan lebih dari satu ikatan dua tidak lazim,terutama terdapat pada minyak nabati,minyak ini disebut poliunsaturat. Trigliserida tak jenuh ganda (poliunsaturat) cenderung berbentuk minyak.
2002 digitized by USU digital library 2
Kegunaan Lemak dan Minyak
Lemak dan minyak merupakan senyawaan organik yang penting bagi kehidupan makhluk hidup.adapun lemak dan minyak ini antara lain:
1. Memberikan rasa gurih dan aroma yang spesipek
2. Sebagai salah satu penyusun dinding sel dan penyusun bahan-bahan biomolekul
3. Sumber energi yang efektif dibandingkan dengan protein dan karbohidrat,karena lemak dan minyak jika dioksidasi secara sempurna akan menghasilkan 9 kalori/liter gram lemak atau minyak. Sedangkan protein dan karbohidrat hanya menghasilkan 4 kalori tiap 1 gram protein atau karbohidrat.
4. Karena titik didih minyak yang tinggi, maka minyak biasanya digunakan untuk menggoreng makanan di mana bahan yang digoreng akan kehilangan sebagian besar air yang dikandungnya atau menjadi kering.
5. Memberikan konsistensi empuk,halus dan berlapis-lapis dalam pembuatan roti.
6. Memberikan tektur yang lembut dan lunakl dalam pembuatan es krim.
7. Minyak nabati adalah bahan utama pembuatan margarine
8. Lemak hewani adalah bahan utama pembuatan susu dan mentega
9. Mencegah timbulnya pen
PERBANDINGAN GENETIKA TIRUAN DENGAN RAMDOM SAMPLING
I. TUJUAN
Dalam praktikum ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh tiruan perkawinan antara 2 indipudu yang heterosigot pada salah satu lokusnya mendekati kebenaran hukum mendel.
II. BAHAN DAN ALAT YANG DI GUNAKAN
BAHAN DAN ALAT:
1. Kancing baju
2. Kantong Kain
3. Lembar pengamat data
III. TINJAUAN PUSTAKA
Hukum Pewarisan Mendel
Alel/gen dominan dan resesif pada orang tua (1, P), anak (2, F1) dan cucu (3, F2) menurut Mendel. Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:
1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Pertama Mendel, dan
2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
Gen
Gen (dari bahasa Belanda: gen) adalah unit pewarisan sifat bagi organisme hidup. Bentuk fisiknya adalah urutan DNA yang menyandi suatu protein, polipeptida, atau seuntai RNA yang memiliki fungsi bagi organisme yang memilikinya. Batasan modern gen adalah suatu lokasi tertentu pada genom yang berhubungan dengan pewarisan sifat dan dapat dihubungkan dengan fungsi sebagai regulator (pengendali), sasaran transkripsi, atau peran-peran fungsional lainnya. Penggunaan "gen" dalam percakapan sehari-hari (misalnya "gen cerdas" atau "gen warna rambut") sering kali dimaksudkan untuk alel: pilihan variasi yang tersedia oleh suatu gen. Meskipun ekspresi alel dapat serupa, orang lebih sering menggunakan istilah alel untuk ekspresi gen yang secara fenotipik berbeda. Gen diwariskan oleh satu individu kepada keturunannya melalui suatu proses reproduksi, bersama-sama dengan DNA yang membawanya. Dengan demikian, informasi yang menjaga keutuhan bentuk dan fungsi kehidupan suatu organisme dapat terjaga.
KROMOSOM adalah struktur benang dalam inti sel yang bertanggung jawab dalam hal sifat keturunan (hereditas). Kromosom adalah KHAS bagi makhluk hidup.
GEN adalah "substansi hereditas" yang terletak di dalam kromosom.
Gen bersifat antara lain :
- Sebagai materi tersendiri yang terdapat dalam kromosom.
- Mengandung informasi genetika.
- Dapat menduplikasikan diri pada peristiwa pembelahan sel.
Sepasang kromosom adalah "HOMOLOG" sesamanya, artinya mengandung lokus gen-gen yang bersesuaian yang disebut ALELA.
LOKUS adalah lokasi yang diperuntukkan bagi gen dalam kromosom.
ALEL GANDA (MULTIPLE ALLELES) adalah adanya lebih dari satu alel pada lokus yang sama.
Dikenal dua macam kromosom yaitu:
1. Kromosom badan (Autosom).
2. Kromosom kelamin / kromosom seks (Gonosom).
THOMAS HUNT MORGAN
adalah ahli genetika dari Amerika Serikat yang menemukan bahwa faktor-faktor keturunan (gen) tersimpan dalam lokus yang khas dalam kromosom.
Percobaan untuk hal ini dilakukan pada lalat buah (Drosophila melanogaster) dengan alasan sebagai berikut:
- Cepat berkembang biak,
- Mudah diperoleh dan dipelihara,
- Cepat menjadi dewasa (umur 10 - 14 hari sudah de~wasa),
- Lalat betina bertelur banyak,
- Hanya memiliki 4 pasang kromosom, sehingga mudah diteliti.
Genotip adalah komposisi faktor keturunan (tidak tampak secara fisik).
Fenotip adalah sifat yang tampak pada keturunan.
Pada hibrida atau polihibrida berlaku prinsip berpasangan secara bebas.
Dikenal beberapa bentulc ———> ratio fenotip f2)
1. Interaksi pasangan alela pada varitas ayam ——> 9 : 3 : 3 : 1
2. Polimeri (nielson-echle) pada varitas gandum ——> 15 : 1
polimeri pada manusia misalnya peristiwa pigmentasi kulit.
3. Kriptomeri pada tanaman "pukul empat" (mirabilis jalapa)
percobaan pada linaria maroccana ———> 9 : 3 : 4
4. Epistasis & hipostasis pada varitas gandum———> 12 : 3 : 1
5. Koepistasis pada lathyrusodoratus ———> 9 : 7
(lathyrus odoratus = varitas ercis yang berbiji manis)
IV. CARA KERJA
1. Mengambil dua buah kantong kain, di dalamnya masing-masing di isi dengan 400 butir kancing baju yang terdiri 200 butir bewarna hitam, 200 butir bewarna merah (dalam ingatan kita bayangkan bahwa masing-masing kanton g kita anggap mindividu jantan dan individu betina yang akan di kawinkan, sedangkan butir-butir kancing merupakan gamet-gamet yang terbentuk.
2. Mengocok kantong-kantong tersebut sehingga buti-butir kancing tercampur merata (homogen)
3. Memungut dari masing-masing satu butir kancing, mengamati warnanya dan mencatat genotifnya(2 butir kancing yang sudah di ambil dan mengggambarkan 2 gamet, masing-masing dari gamet jantan dan betina yang membentuk zygot).
4. Pada praktikum ini kita mengadakan 4 ulangan, pertama melakukan perkawinan tiruan 60 kali, kedua 80 kali, ketiga 100 kali dan ke empat 120 kali.
5. Tiap kali akan memunngut butir-butir kancing pada ulangan berikutnya selalu mengocok butir-butir kancing dalam kantong-kantong dan populasi dalam kantong 400 butir yang terdiri dari 200 butir bewarna merah dan 200 butir bewarna hiatam. Setelah diamati dari masing-masing kantong butir kancing jangan di campur. Buti dari kantong kiri di taruh di samping kiri, butir dari kaantong kanan di taruh di samping kanan dan hasilnya di catat dalam tabel pengamatan.
V. HASIL PENGAMATAN
Data pengamatan pada ulangan 60 kali
Genotip Observasi (O) Expected(E) (O-E) (O-E)2 (O-E)2/E
KK 21
Kk 28
Kk 11
X2=
Data pengamatan pada ulangan 80 kali
Genotip Observasi (O) Expected(E) (O-E) (O-E)2 (O-E)2/E
KK 21
Kk 46
Kk 13
X2=
Data pengamatan pada ulangan 100 kali
Genotip Observasi (O) Expected(E) (O-E) (O-E)2 (O-E)2/E
KK 19
Kk 64
Kk 17
X2=
Data pengamatan pada ulangan 120 kali
Genotip Observasi (O) Expected(E) (O-E) (O-E)2 (O-E)2/E
KK 29
Kk 55
Kk 36
X2=
VI. PEMBAHASAN
Pertanyaan
1. Berapa macam hokum mendel yang anda ketahui
Jawab
Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:
1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Pertama Mendel, dan
2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
Hukum segregasi (hukum pertama Mendel)
Perbandingan antara B (warna coklat), b (warna putih), S (buntut pendek), dan s (buntut panjang) pada generasi F2
Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya.
Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok:
1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resisif (tidak selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w dalam gambar di sebelah), dan alel dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya R).
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya ww dalam gambar di sebelah) dan satu dari tetua betina (misalnya RR dalam gambar di sebelah).
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda (Sb dan sB pada gambar 2), alel dominan (S atau B) akan selalu terekspresikan (nampak secara visual dari luar). Alel resesif (s atau b) yang tidak selalu terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk pada turunannya.
Hukum asortasi bebas (hukum kedua Mendel)
Hukum kedua Mendel menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat yang berbeda tidak saling mempengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa gen yang menentukan e.g. tinggi tanaman dengan warna bunga suatu tanaman, tidak saling mempengaruhi.
Seperti nampak pada gambar 1, induk jantan (tingkat 1) mempunyai genotipe ww (secara fenotipe berwarna putih), dan induk betina mempunyai genotipe RR (secara fenotipe berwarna merah). Keturunan pertama (tingkat 2 pada gambar) merupakan persilangan dari genotipe induk jantan dan induk betinanya, sehingga membentuk 4 individu baru (semuanya bergenotipe wR). Selanjutnya, persilangan/perkawinan dari keturuan pertama ini akan membentuk indidividu pada keturunan berikutnya (tingkat 3 pada gambar) dengan gamet R dan w pada sisi kiri (induk jantan tingkat 2) dan gamet R dan w pada baris atas (induk betina tingkat 2). Kombinasi gamet-gamet ini akan membentuk 4 kemungkinan individu seperti nampak pada papan catur pada tingkat 3 dengan genotipe: RR, Rw, Rw, dan ww. Jadi pada tingkat 3 ini perbandingan genotipe RR , (berwarna merah) Rw (juga berwarna merah) dan ww (berwarna putih) adalah 1:2:1. Secara fenotipe perbandingan individu merah dan individu putih adalah 3:1.
Kalau contoh pada gambar 1 merupakan kombinasi dari induk dengan satu sifat dominan (berupa warna), maka contoh ke-2 menggambarkan induk-induk dengan 2 macam sifat dominan: bentuk buntut dan warna kulit. Persilangan dari induk dengan satu sifat dominan disebut monohibrid, sedang persilangan dari induk-induk dengan dua sifat dominan dikenal sebagai dihibrid, dan seterusnya.
Pada gambar 2, sifat dominannya adalah bentuk buntut (pendek dengan genotipe SS dan panjang dengan genotipe ss) serta warna kulit (putih dengan genotipe bb dan coklat dengan genotipe BB). Gamet induk jantan yang terbentuk adalah Sb dan Sb, sementara gamet induk betinanya adalah sB dan sB (nampak pada huruf di bawah kotak). Kombinasi gamet ini akan membentuk 4 individu pada tingkat F1 dengan genotipe SsBb (semua sama). Jika keturunan F1 ini kemudian dikawinkan lagi, maka akan membentuk individu keturunan F2. Gamet F1nya nampak pada sisi kiri dan baris atas pada papan catur. Hasil individu yang terbentuk pada tingkat F2 mempunyai 16 macam kemungkinan dengan 2 bentuk buntut: pendek (jika genotipenya SS atau Ss) dan panjang (jika genotipenya ss); dan 2 macam warna kulit: coklat (jika genotipenya BB atau Bb) dan putih (jika genotipenya bb). Perbandingan hasil warna coklat:putih adalah 12:4, sedang perbandingan hasil bentuk buntut pendek:panjang adalah 12:4. Perbandingan detail mengenai genotipe SSBB:SSBb:SsBB:SsBb: SSbb:Ssbb:ssBB:ssBb: ssbb adalah 1:2:2:4: 1:2:1:2: 1.
2. Apa arti segregasi?
Segregasi adalah pemisahan (suatu golongan dr golongan lainnya); pengasingan; pengucilan
3. Apa sebab tiap ulangan di mulai populasi dikembalikan 400 butir?
Jawab
Agar hasil pengamatan tidak salahdan tidak ada penyimpangan
4. Apakah yang di maksud dengan chi-square?
Jawab
Chi square adalah pengujian hipotesis mengenai perbandingan antara frekuensi observasi atau yang benar-benar terjadi atau aktual dengan frekuensi harapan. Yang dimaksud dengan frekuensi harapan adalah frekuensi yang nilainya dapat di hitung secara teoritis (e). sedangkan dengan frekuensi observasi adalah frekuensi yang nilainya di dapat dari hasil percobaan (o).
5. Bagaimana pendapat anda bila dikatakan bahwa semakin besar ulangan akan semakin besar nilai (O-E)2E yang di peroleh?
Jawab
Menurut pendapat saya, semakin besar ulangan akan semakin besar nilai (O-E)2E adalah benar karena apabila ulanganya banyak maka jumlah (O-E)2E akan bertambah banyak juga.
VII. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan dan pembahasan dapat di simpulkan bahwa
VIII. DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Pewarisan_Mendel
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/10/hukum-mendel.html
http://gurumuda.com/bse/hukum-mendel
Dalam praktikum ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh tiruan perkawinan antara 2 indipudu yang heterosigot pada salah satu lokusnya mendekati kebenaran hukum mendel.
II. BAHAN DAN ALAT YANG DI GUNAKAN
BAHAN DAN ALAT:
1. Kancing baju
2. Kantong Kain
3. Lembar pengamat data
III. TINJAUAN PUSTAKA
Hukum Pewarisan Mendel
Alel/gen dominan dan resesif pada orang tua (1, P), anak (2, F1) dan cucu (3, F2) menurut Mendel. Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:
1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Pertama Mendel, dan
2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
Gen
Gen (dari bahasa Belanda: gen) adalah unit pewarisan sifat bagi organisme hidup. Bentuk fisiknya adalah urutan DNA yang menyandi suatu protein, polipeptida, atau seuntai RNA yang memiliki fungsi bagi organisme yang memilikinya. Batasan modern gen adalah suatu lokasi tertentu pada genom yang berhubungan dengan pewarisan sifat dan dapat dihubungkan dengan fungsi sebagai regulator (pengendali), sasaran transkripsi, atau peran-peran fungsional lainnya. Penggunaan "gen" dalam percakapan sehari-hari (misalnya "gen cerdas" atau "gen warna rambut") sering kali dimaksudkan untuk alel: pilihan variasi yang tersedia oleh suatu gen. Meskipun ekspresi alel dapat serupa, orang lebih sering menggunakan istilah alel untuk ekspresi gen yang secara fenotipik berbeda. Gen diwariskan oleh satu individu kepada keturunannya melalui suatu proses reproduksi, bersama-sama dengan DNA yang membawanya. Dengan demikian, informasi yang menjaga keutuhan bentuk dan fungsi kehidupan suatu organisme dapat terjaga.
KROMOSOM adalah struktur benang dalam inti sel yang bertanggung jawab dalam hal sifat keturunan (hereditas). Kromosom adalah KHAS bagi makhluk hidup.
GEN adalah "substansi hereditas" yang terletak di dalam kromosom.
Gen bersifat antara lain :
- Sebagai materi tersendiri yang terdapat dalam kromosom.
- Mengandung informasi genetika.
- Dapat menduplikasikan diri pada peristiwa pembelahan sel.
Sepasang kromosom adalah "HOMOLOG" sesamanya, artinya mengandung lokus gen-gen yang bersesuaian yang disebut ALELA.
LOKUS adalah lokasi yang diperuntukkan bagi gen dalam kromosom.
ALEL GANDA (MULTIPLE ALLELES) adalah adanya lebih dari satu alel pada lokus yang sama.
Dikenal dua macam kromosom yaitu:
1. Kromosom badan (Autosom).
2. Kromosom kelamin / kromosom seks (Gonosom).
THOMAS HUNT MORGAN
adalah ahli genetika dari Amerika Serikat yang menemukan bahwa faktor-faktor keturunan (gen) tersimpan dalam lokus yang khas dalam kromosom.
Percobaan untuk hal ini dilakukan pada lalat buah (Drosophila melanogaster) dengan alasan sebagai berikut:
- Cepat berkembang biak,
- Mudah diperoleh dan dipelihara,
- Cepat menjadi dewasa (umur 10 - 14 hari sudah de~wasa),
- Lalat betina bertelur banyak,
- Hanya memiliki 4 pasang kromosom, sehingga mudah diteliti.
Genotip adalah komposisi faktor keturunan (tidak tampak secara fisik).
Fenotip adalah sifat yang tampak pada keturunan.
Pada hibrida atau polihibrida berlaku prinsip berpasangan secara bebas.
Dikenal beberapa bentulc ———> ratio fenotip f2)
1. Interaksi pasangan alela pada varitas ayam ——> 9 : 3 : 3 : 1
2. Polimeri (nielson-echle) pada varitas gandum ——> 15 : 1
polimeri pada manusia misalnya peristiwa pigmentasi kulit.
3. Kriptomeri pada tanaman "pukul empat" (mirabilis jalapa)
percobaan pada linaria maroccana ———> 9 : 3 : 4
4. Epistasis & hipostasis pada varitas gandum———> 12 : 3 : 1
5. Koepistasis pada lathyrusodoratus ———> 9 : 7
(lathyrus odoratus = varitas ercis yang berbiji manis)
IV. CARA KERJA
1. Mengambil dua buah kantong kain, di dalamnya masing-masing di isi dengan 400 butir kancing baju yang terdiri 200 butir bewarna hitam, 200 butir bewarna merah (dalam ingatan kita bayangkan bahwa masing-masing kanton g kita anggap mindividu jantan dan individu betina yang akan di kawinkan, sedangkan butir-butir kancing merupakan gamet-gamet yang terbentuk.
2. Mengocok kantong-kantong tersebut sehingga buti-butir kancing tercampur merata (homogen)
3. Memungut dari masing-masing satu butir kancing, mengamati warnanya dan mencatat genotifnya(2 butir kancing yang sudah di ambil dan mengggambarkan 2 gamet, masing-masing dari gamet jantan dan betina yang membentuk zygot).
4. Pada praktikum ini kita mengadakan 4 ulangan, pertama melakukan perkawinan tiruan 60 kali, kedua 80 kali, ketiga 100 kali dan ke empat 120 kali.
5. Tiap kali akan memunngut butir-butir kancing pada ulangan berikutnya selalu mengocok butir-butir kancing dalam kantong-kantong dan populasi dalam kantong 400 butir yang terdiri dari 200 butir bewarna merah dan 200 butir bewarna hiatam. Setelah diamati dari masing-masing kantong butir kancing jangan di campur. Buti dari kantong kiri di taruh di samping kiri, butir dari kaantong kanan di taruh di samping kanan dan hasilnya di catat dalam tabel pengamatan.
V. HASIL PENGAMATAN
Data pengamatan pada ulangan 60 kali
Genotip Observasi (O) Expected(E) (O-E) (O-E)2 (O-E)2/E
KK 21
Kk 28
Kk 11
X2=
Data pengamatan pada ulangan 80 kali
Genotip Observasi (O) Expected(E) (O-E) (O-E)2 (O-E)2/E
KK 21
Kk 46
Kk 13
X2=
Data pengamatan pada ulangan 100 kali
Genotip Observasi (O) Expected(E) (O-E) (O-E)2 (O-E)2/E
KK 19
Kk 64
Kk 17
X2=
Data pengamatan pada ulangan 120 kali
Genotip Observasi (O) Expected(E) (O-E) (O-E)2 (O-E)2/E
KK 29
Kk 55
Kk 36
X2=
VI. PEMBAHASAN
Pertanyaan
1. Berapa macam hokum mendel yang anda ketahui
Jawab
Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:
1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Pertama Mendel, dan
2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
Hukum segregasi (hukum pertama Mendel)
Perbandingan antara B (warna coklat), b (warna putih), S (buntut pendek), dan s (buntut panjang) pada generasi F2
Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya.
Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok:
1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resisif (tidak selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w dalam gambar di sebelah), dan alel dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya R).
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya ww dalam gambar di sebelah) dan satu dari tetua betina (misalnya RR dalam gambar di sebelah).
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda (Sb dan sB pada gambar 2), alel dominan (S atau B) akan selalu terekspresikan (nampak secara visual dari luar). Alel resesif (s atau b) yang tidak selalu terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk pada turunannya.
Hukum asortasi bebas (hukum kedua Mendel)
Hukum kedua Mendel menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat yang berbeda tidak saling mempengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa gen yang menentukan e.g. tinggi tanaman dengan warna bunga suatu tanaman, tidak saling mempengaruhi.
Seperti nampak pada gambar 1, induk jantan (tingkat 1) mempunyai genotipe ww (secara fenotipe berwarna putih), dan induk betina mempunyai genotipe RR (secara fenotipe berwarna merah). Keturunan pertama (tingkat 2 pada gambar) merupakan persilangan dari genotipe induk jantan dan induk betinanya, sehingga membentuk 4 individu baru (semuanya bergenotipe wR). Selanjutnya, persilangan/perkawinan dari keturuan pertama ini akan membentuk indidividu pada keturunan berikutnya (tingkat 3 pada gambar) dengan gamet R dan w pada sisi kiri (induk jantan tingkat 2) dan gamet R dan w pada baris atas (induk betina tingkat 2). Kombinasi gamet-gamet ini akan membentuk 4 kemungkinan individu seperti nampak pada papan catur pada tingkat 3 dengan genotipe: RR, Rw, Rw, dan ww. Jadi pada tingkat 3 ini perbandingan genotipe RR , (berwarna merah) Rw (juga berwarna merah) dan ww (berwarna putih) adalah 1:2:1. Secara fenotipe perbandingan individu merah dan individu putih adalah 3:1.
Kalau contoh pada gambar 1 merupakan kombinasi dari induk dengan satu sifat dominan (berupa warna), maka contoh ke-2 menggambarkan induk-induk dengan 2 macam sifat dominan: bentuk buntut dan warna kulit. Persilangan dari induk dengan satu sifat dominan disebut monohibrid, sedang persilangan dari induk-induk dengan dua sifat dominan dikenal sebagai dihibrid, dan seterusnya.
Pada gambar 2, sifat dominannya adalah bentuk buntut (pendek dengan genotipe SS dan panjang dengan genotipe ss) serta warna kulit (putih dengan genotipe bb dan coklat dengan genotipe BB). Gamet induk jantan yang terbentuk adalah Sb dan Sb, sementara gamet induk betinanya adalah sB dan sB (nampak pada huruf di bawah kotak). Kombinasi gamet ini akan membentuk 4 individu pada tingkat F1 dengan genotipe SsBb (semua sama). Jika keturunan F1 ini kemudian dikawinkan lagi, maka akan membentuk individu keturunan F2. Gamet F1nya nampak pada sisi kiri dan baris atas pada papan catur. Hasil individu yang terbentuk pada tingkat F2 mempunyai 16 macam kemungkinan dengan 2 bentuk buntut: pendek (jika genotipenya SS atau Ss) dan panjang (jika genotipenya ss); dan 2 macam warna kulit: coklat (jika genotipenya BB atau Bb) dan putih (jika genotipenya bb). Perbandingan hasil warna coklat:putih adalah 12:4, sedang perbandingan hasil bentuk buntut pendek:panjang adalah 12:4. Perbandingan detail mengenai genotipe SSBB:SSBb:SsBB:SsBb: SSbb:Ssbb:ssBB:ssBb: ssbb adalah 1:2:2:4: 1:2:1:2: 1.
2. Apa arti segregasi?
Segregasi adalah pemisahan (suatu golongan dr golongan lainnya); pengasingan; pengucilan
3. Apa sebab tiap ulangan di mulai populasi dikembalikan 400 butir?
Jawab
Agar hasil pengamatan tidak salahdan tidak ada penyimpangan
4. Apakah yang di maksud dengan chi-square?
Jawab
Chi square adalah pengujian hipotesis mengenai perbandingan antara frekuensi observasi atau yang benar-benar terjadi atau aktual dengan frekuensi harapan. Yang dimaksud dengan frekuensi harapan adalah frekuensi yang nilainya dapat di hitung secara teoritis (e). sedangkan dengan frekuensi observasi adalah frekuensi yang nilainya di dapat dari hasil percobaan (o).
5. Bagaimana pendapat anda bila dikatakan bahwa semakin besar ulangan akan semakin besar nilai (O-E)2E yang di peroleh?
Jawab
Menurut pendapat saya, semakin besar ulangan akan semakin besar nilai (O-E)2E adalah benar karena apabila ulanganya banyak maka jumlah (O-E)2E akan bertambah banyak juga.
VII. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan dan pembahasan dapat di simpulkan bahwa
VIII. DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Pewarisan_Mendel
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/10/hukum-mendel.html
http://gurumuda.com/bse/hukum-mendel
Selasa, 23 November 2010
PENGERTIAN DAN LINGKUP TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN
PENGERTIAN DAN LINGKUP
TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN
1.1.Pengertian
Keperluan akan bahan pangan
senantiasa menjadi permasalahan
yang tidak putus-putusnya.
Kekurangan pangan seolah olah
sudah menjadi persoalan akrab
dengan manusia. Kegiatan pertanian
yang meliputi budaya bercocok
tanam merupakan kebudayaan
manusia paling tua.
Sejalan dengan peningkatan
peradaban manusia, teknik budidaya
tanaman juga berkembang menjadi
berbagai sistem. Mulai dari sistem
yang paling sederhana sampai
sistem yang canggih. Berbagai
teknologi budidaya dikembangkan
guna mencapai produktivitas yang
diinginkan.
Istilah teknik budidaya tanaman
diturunkan dari pengertian kata-kata
teknik, budidaya, dan tanaman.
Teknik memiliki arti pengetahuan
atau kepandaian membuat sesuatu,
sedangkan budidaya bermakna
usaha yang memberikan hasil. Kata
tanaman merujuk pada pengertian
tumbuh-tumbuhan yang diusahakan
manusia, yang biasanya telah
melampaui proses domestikasi.
Teknik budidaya tanaman adalah
proses menghasilkan bahan pangan
serta produk-produk agroindustri
dengan memanfaatkan sumberdaya
tumbuhan.
Cakupan obyek budidaya tanaman
meliputi tanaman pangan,
hortikultura, dan perkebunan.
Sebagaimana dapat dilihat,
penggolongan ini dilakukan
berdasarkan objek budidayanya:
· Budidaya tanaman, dengan
obyek tumbuhan dan diusahakan
pada lahan yang diolah secara
intensif.
· Kehutanan, dengan obyek
tumbuhan (biasanya pohon) dan
diusahakan pada lahan yang
setengah liar.
Budidaya tanaman memiliki dua ciri
penting yaitu:
1. Selalu melibatkan barang dalam
volume besar
2. Proses produksinya memiliki
risiko yang relatif tinggi.
Dua ciri khas ini muncul karena
pertanian melibatkan makhluk hidup
dalam satu atau beberapa tahapnya
dan memerlukan ruang untuk
kegiatan itu serta jangka waktu
tertentu dalam proses produksi.
Beberapa bentuk pertanian modern
(misalnya budidaya alga,
2
hidroponika telah dapat
mengurangkan ciri-ciri ini tetapi
sebagian besar usaha pertanian
dunia masih tetap demikian.
1.2. Tindak Budidaya
Tanaman
Kegiatan pertanian (budidaya
tanaman) merupakan salah satu
kegiatan yang paling awal dikenal
peradaban manusia dan mengubah
total bentuk kebudayaan.
Para ahli prasejarah umumnya
bersepakat bahwa pertanian
pertama kali berkembang sekitar
12.000 tahun yang lalu dari
kebudayaan di daerah "bulan sabit
yang subur" di Timur Tengah, yang
meliputi daerah lembah Sungai
Tigris dan Eufrat terus memanjang
ke barat hingga daerah Suriah dan
Yordania sekarang. Bukti-bukti yang
pertama kali dijumpai menunjukkan
adanya budidaya tanaman biji-bijian
(serealia, terutama gandum, kurma
dan polong-polongan pada daerah
tersebut.
Pada saat itu, 2000 tahun setelah
berakhirnya Zaman Es terakhir di
era Pleistosen, di dearah ini banyak
dijumpai hutan dan padang yang
sangat cocok bagi mulainya
pertanian.
Budidaya tanaman telah dikenal
oleh masyarakat yang telah
mencapai kebudayaan batu muda
(neolitikum), perunggu dan
megalitikum.
Pertanian mengubah bentuk-bentuk
kepercayaan, dari pemujaan
terhadap dewa-dewa perburuan
menjadi pemujaan terhadap dewadewa
perlambang kesuburan dan
ketersediaan pangan.
Teknik budidaya tanaman lalu
meluas ke barat (Eropa dan Afrika
Utara, pada saat itu Sahara belum
sepenuhnya menjadi gurun) dan ke
Timur (hingga Asia Timur dan Asia
Tenggara). Bukti-bukti di Tiongkok
menunjukkan adanya budidaya
jewawut (millet) dan padi sejak 6000
tahun sebelum Masehi.
Masyarakat Asia Tenggara telah
mengenal budidaya padi sawah
paling tidak pada saat 3000 tahun
SM dan Jepang serta Korea sejak
1000 tahun SM. Sementara itu,
masyarakat benua Amerika
mengembangkan tanaman dan
hewan budidaya yang sejak awal
sama sekali berbeda.
Budidaya sayur-sayuran dan buahbuahan
juga dikenal manusia telah
lama. Masyarakat Mesir Kuno (4000
tahun SM) dan Yunani Kuno (3000
tahun SM) telah mengenal baik
budidaya anggur dan zaitun.
Teknik budidaya tanaman pada
zaman dahulu tidak dikelompokkan
kedalam teknik budidaya, karena
pada saat itu belum melakukan
tindak budidaya tanaman, karena
sifatnya masih mengumpulkan dan
mencari bahan pangan.
Suatu kegiatan dimasukkan kedalam
tindak budidaya dikatakan apabila
telah melakukan 3 hal pokok yaitu;
1. Melakukan pengolahan tanah
3
2. Pemeliharaan untuk mencapai
produksi maksimum
3. Tidak berpindah-pindah
Pada umumnya kegiatan budidaya
tanaman terkait dengan tingkat
pengetahuan manusia pada masa
itu. Relevansi dari peradaban
tersebut terwujud pada kesadaran
untuk melaksanakan tindak
budidaya. Tindak awal dari
dimulainya teknik budidaya dimulai
dengan menetapnya seorang
peladang menempati suatu areal
pertanaman tertentu.
Teknik budidaya yang sudah maju
ditandai oleh adanya:
1. Lapang produksi
2. Pengelolaan yang berencana
3. Memiliki minat untuk mencapai
produksi maksimum dengan
menerapkan berbagai ilmu dan
teknologi.
Tingkatan teknik budidaya tanaman
berjenjang dari yang paling
sederhana sampai yang
maju/canggih. Nilai kegiatan
budidaya tersebut tergantung pada
tingkat ketiga dari teknik budidaya.
Tingkatan tindak budidaya tanaman
dicerminkan juga oleh tingkatan
pengelolaan lapang produksi.
Pengelolaan yang paling sederhana
sampai pengelolaan yang paling
maju, yaitu teknik budidaya yang
telah melakukan pengelolaan
terhadap unsur iklim, air, tanah dan
udara. Pada kelompok ini pelaku
budidaya telah dapat mengestimasi
produksi maksimumnya dan panen
yang tepat waktu. Sebagaimana
diketahui ketepatan saat panen
sangat menentukan nilau jual suatu
produk. Intensifikasi dalam
pengelolaan lapang produksi diikui
juga oleh meningkatnya sarana
agronomi baik bahan atau jasa.
1.3. Aspek dan Lingkup
Teknik Budidaya
Tanaman
1.3.1. Aspek budidaya
Aspek budidaya meliputi tiga aspek
pokok, yaitu:
1. Aspek pemuliaan tanaman
2. Aspek fisiologi tanaman
3. Aspek ekologi tanaman
Ketiga aspek ini merupakan suatu
gugus ilmu tanaman (crop science)
yang langsung berperan terhadap
budidaya tanaman dan sekali gus
terlihat pada produksi tanaman.
Hasil pemuliaan tanaman, berupa
varietas yang memiliki berbagai
sifat unggul. Akan tetapi sifat unggul
ini hanya akan muncul bila teknik
budidaya yang dilakukan sesuai
dengan sifat yang diinginkan
varietas unggul tersebut. Dengan
kata lain keberhasilan dalam
penggunaan varietas unggul sangat
tergantung pada bagaimana pelaku
budidaya telah melakukan tindak
budidayanya secara benar.
Peningkatan produksi pangan tidak
hanya mengandalkan penemuanpenemuan
varietas-varietas baru
yang mempunyai kelebihankelebihan
tertentu, tetapi juga harus
memperbaiki metoda atau teknik
budidayanya serta mengusahakan
cara bertanam yang benar.
Pemulia tanaman terus berupaya
untuk menghasilkan berbagai
4
modifikasi keunggulannya guna
mencapai peningkatan kebutuhan
manusia.
Aspek fisiologis dalam teknik
budidaya tanaman mencakup
segenap kelakuan tanaman dari
taraf benih sampai taraf panen.
Ekologi tanaman merupakan seluruh
faktor di luar tanaman utama (baik
biotik maupun abiotik) yang
mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman.
1.3.2. Lingkup budidaya
tanaman
Lingkup dari budidaya tanaman
terdiri dari bidang ilmu:
1. Pemuliaan tanaman
2. Teknologi benih
3. Pengolahan
4. Teknik budidaya
5. Pengendalian hama, penyakit
dan gulma
6. Pemanenan
Seluruh lingkup budidaya tanaman
berada dalam konteks yang padu.
Satu sama lain dan mempunyai
hubungan timbal balik yang erat.
Kegiatan budidaya tanaman itu
sendiri mengandung 3 faktor utama
yaitu:
a. Tanaman
b. Lingkungan tumbuh atau lapang
produksi dan teknik budidaya
atau pengelolaan.
c. Produk tanaman
Tanaman pertanian adalah tumbuhtumbuhan
yang dikelola manusia
pada batas tingkat tertentu. Jumlah
spesies yang termasuk kedalam
tanaman pertanian ini cukup banyak
mencapai 20.000 spesies lebih.
Meningkatnya peradaban dan
kebudayaan manusia serta
pemenuhan kebutuhan pangan,
sandang dan papan akan
menambah jumlah spesies yang
termasuk ke dalam tanaman
pertanian.
Tanaman mengalami dua tahap
perkembangan yaitu tahap
perkembangan vegetatif dan
reproduktif. Tahap perkembangan
vegetatif meliputi perkecambahan
benih, pemunculan dan
pertumbuhan bibit dan menjadi
tanaman dewasa. Sedangkan tahap
perkembangan reproduktif meliputi
pembentukan bunga, pembentukan,
pemasakan dan pematangan biji.
Lingkungan tumbuh tanaman dapat
digolongkan ke dalam lingkungan
abiotik berupa tanah atau
medium/substrat lainnya dan iklim
atau cuaca dan lingkungan biotik
berupa makhluk hidup lainnya.
Tanah atau medium/substrat
merupakan pemasok hara dan air
yang diperlukan tanaman selain
sebagai tempat hidup komponen
biotik, baik yang menguntungkan
maupun yang merugikan.
Iklim terdiri dari unsur/unsur seperti
udara, angin, suhu, kelembaban
udara, cahaya matahari, dan hujan.
Lingkungan biotik meliputi hama,
penyakit dan gulma yang merugikan
dan makhluk lainnya yang
menguntungkan tanaman.
5
Lingkungan tumbuh yang baik
memungkinkan produksi tanaman
yang baik juga. Tanaman dengan
lingkungan tumbuhnya saling
berinteraksi dan mempengaruhi satu
sama lain.
1.3.3. Produk budidaya
tanaman
Produk tanaman dapat
dikelompokkan menjadi dua bagian
yaitu:
1. Produk dari teknik budidaya
yang dapat digunakan langsung
2. Benih atau bibit yang merupakan
produk pertanian untuk
mempertahankan kelangsungan
budidaya .
Kedua produk tanaman ini memiliki
prinsip yang berbeda dalam
pengelolaannya.
Pengelolaan untuk menghasilkan
benih/bibit mencakup dua prinsip
yaitu:
a. Prinsip genetis, dalam prinsip
ini teknik budidaya diarahkan
untuk menghasilkan benih/bibit
yang bermutu genetik tinggi
yakni; murni genetik, jelas
varietas, atau benar tipe.
b. Prinsip agronomis, prinsip ini
mengarahkan teknik budidaya
untuk menghasilkan benih
bermutu fisiologis dan mutu fisik
yang tinggi, selain hasilnya juga
tinggi.
Sebagai ilustrasi bagaimana produk
tanaman pertanian di dunia sampai
pada tahun 2002 dapat dilihat pada
Gambar 1.
Pada Gambar 1 berikut ini dapat
dilihat walaupun spesies yang
dimanfaatkan manusia di dunia ini
mencapai 20.000 spesies, akan
tetapi produk terbesar diperoleh ada
tanaman bahan pangan seperti
gandum, padi, jagung dan kentang.
6
Gambar 1. Produksi tahunan beberapa tanaman pertanian di dunia
7
Peningkatan kebutuhan akan bahan
pangan, sandang, dan pangan pada
jenis tertentu akan menghasilkan
temuan varietas baru yang unggul
hanya pada jenis yang diminati saja,
sedangkan pada jenis lainnya relatif
lebih lambat.
Gambar 1 juga memperlihatkan
peningkatan produksi yang relatif
lebih cepat pada bahan makanan
yang berfungsi sebagai makanan
pokok dunia dibandingkan dengan
jenis makanan lainnya.
Peningkatan produksi pertanian
dunia sangat tergantung pada
bagaimana pelaku pertanian
melaksanakan teknik budidayanya.
Beberapa produk pertanian yang
saat ini berhasil berkembang cukup
berarti di Indonesia antara lain :
a. Tepung, beras, ubi kayu,
jagung, gandum
b. Buah-buahan : jeruk, pisang,
mangga, dll
c. Sayur-sayuran: kubis, kentang
d. Kacang-kacangan: kacang
tanah, kedelai
e. Ikan segar, udang, telur, susu,
dairy produk
f. Daging ayam, sapi, kerbau
g. Makanan jadi, minuman
h. Ternak, hasil peternakan,
makanan ternak
1.4. Potensi sumber daya
alam Indonesia.
Indonesia secara alamiah adalah
negara pertanian dengan budaya
pertanian yang kuat. Bertani,
beternak, berburu ikan dilaut adalah
keahlian turun-menurun yang sudah
mendarah daging. Teknologi dasar
ini sudah dikuasai sejak jaman
nenek moyang. Karena budaya
pertanian yang telah mendarah
daging maka usaha pada sektor
pertanian kita sebenarnya dapat
dipacu untuk berproduksi sebesarbesarnya.
Luasnya lahan, cadangan air yang
melimpah, dan potensi wilayah yang
tersedia mulai dari dataran rendah
sampai dataran tinggi yang
mendukung menjadi obsesi dalam
menjadikan Indonesia sebagai
pemasok hasil pertanian unggulan di
kemudian hari.
Indonesia memiliki potensi
sumberdaya yang tidak akan pernah
habis, dan akan tetap ada
sepanjang usia alam itu sendiri yakni
manusia,sinar matahari, tanah,
hutan, dan laut.
Manusia dengan akal dan budaya
lokal daerah yang beraneka ragam
akan menghasilkan beragam
teknologi budidaya yang unggul
spesifik lokasi. Teknik budidaya
yang berbasis pada keragaman
fertilitas tanah, yang berkaitan
dengan jenis tanaman yang sesuai
dengan kondisi setempat akan
mengakibatkan keunggulan
komparatif dari jumlah dan mutu
pertanian yang dihasilkan.
Biodiversitas tanaman dan hewan
Indonesia yang dapat dimanfaatkan
juga relatif tinggi. Hal ini
mengakibatkan munculnya
komoditas unggulan daerah yang
potensial.
8
Beberapa komoditas unggulan
daerah misalnya:
- Aceh yang berpotensi untuk
nilam dan tanaman hutan
- Banten dengan komoditas
unggulan padi, palawija,
sayuran dan buah-buahan
- Sumatera Utara yang terkenal
dengan tanaman perkebunannya
seperti kelapa sawit, karet dan
tembakau deli.
- Sumatera barat dengan padi dan
bengkuangnya
- Sumatera Selatan dengan buah
duku
- Jawa Barat dengan padi,
hortikultura, dan teh
- Madura yang memiliki
keunggulan dalam penghasil
jagung
- Maluku (Studi kasus pada
Kabupaten Buru seluas 511.619
ha) memiliki komoditas unggulan
terdiri kelapa 9.250,2 ha, kakao
6.239, 5 ha, cengkeh 4.590, 6
ha, jambu mete 1.213,4 ha, kopi
196, 6 ha, pala 456, 8 ha, dan
vanili 12,0 ha, dengan rata-rata
produktivitas yang diperoleh dari
komoditas perkebunan adalah :
kelapa 1,2 t/ha/tahun, kakao 1,0
t/ha/tahun, cengkeh 1,2
t/ha/tahun, jambu mete 0,8
t/ha/tahun, kopi 1,0 t/ha/tahun,
dan pala 0,9 t/ha/tahun.
Laut Indonesia lebih kurangnya 70%
belum dieksploitasi secara luas. Laut
yang menyimpan kekayaan
biodiversitas dan sumber gizi praktis
masih belum tersentuh bahkan
sebahagian besar belum
terbayangkan. Disamping itu kita
juga memiliki asset lain yang sangat
potensial yaitu hutan tropis yang
bertindak sebagai produsen oksigen
untuk kebutuhan umat manusia.
Sinar matahari sepanjang tahun
menyebabkan kita tidak memerlukan
rumah kaca yang mahal untuk
mengembangkan sektor
pertaniannya. Sinar matahari yang
memungkinkan terjadinya proses
fotosintesa pada tanaman
memungkinkan untuk
mengembangkan dan menghasilkan
komoditas pertanian yang sangat
besar.
Rancang bangun revitalisasi sektor
pertanian saat ini berfokus pada
penyiapan rancang bangun untuk
peningkatan produk pertanian
secara kuantitas dan kualitas.
Beberapa hal-hal yang harus
dirancang secara cermat dalam
rancang bangun tersebut meliputi
kondisi luas lahan yang tersedia
termasuk didalamnya jenisnya
(sawah, lahan tadah hujan, dan
lahan kering yang akan ditanami
untuk tanaman pangan), jenis
komoditas (hortikultura, perkebunan,
obat-obatan/ dan industri) serta
pelaku tindak budidaya (siapa
petaninya).
Untuk meningkatkan produktivitas
yang diinginkan, kebutuhan pupuk
dan pestisida untuk setiap
pertanaman harus dihitung dengan
cermat dan dirancang cara
pengadaannya dengan teliti agar
pupuk/pestisida berkualitas baik
sudah tersedia dengan jumlah yang
dibutuhkan pada waktu yang tepat.
9
Pengadaan bibit/benih berkualitas
baik dan diperlukan harus dirancang
secara tepat. Konservasi air melalui
pemanenan air hujan harus
dirancang secara baik dan memadai
agar tak terjadi kehilangan air yang
berlebihan, dan air tersebut dapat
dipakai sebagai air irigasi pada
musim kemarau berikutnya.
Desain/rancang bangun sistem
pertanian berkelanjutan akan
diterapkan di setiap daerah dan
harus disesuaikan dengan faktor
biofisik daerah (site specific) dan
disusun sedemikian rupa sehingga
sistem pertanian berkelanjutan
terwujud di setiap daerah.
Oleh karenanya untuk mencapai
cita-cita Indonesia sebagai negara
agraris yang unggul hendaknya
diperhatikan hal-hal berikut:
1. Sistem pertanian yang
disesuaikan dengan kondisi
biofisik daerah
2. Sistem usaha agribisnis
3. Teknik budidaya
4. Perbaikan proses produksi
5. Pemasaran produksi
6. Peningkatan akses masyarakat
terhadap teknologi
7. Pendanaan usahanya dan upaya
peningkatan pelanggan,
sehingga masyarakat mampu
meningkatkan profit
8. Meningkatkan pengembangan
produk dan memperbaiki kualitas
1.5. Peningkatan
produktivitas
Perubahan ekonomi dan
peningkatan pendapatan
masyarakat tani ke arah yang lebih
baik adalah salah satu tujuan
terpenting dari budidaya yang
dilakukan.
Peningkatan ekonomi itu harus
dapat diwujudkan, terutama melalui
peningkatan produktivitas pertanian.
Hal ini sangat berkaitan dengan
rancangan perbaikan teknik
budidaya di suatu daerah yang
harus didasarkan pada faktor biofisik
dan keadaan sosial, budaya, dan
ekonomi setempat dengan tujuan
agar produktivitas pertaniannya
dapat menjamin pendapatan petani
yang cukup tinggi untuk mendukung
kehidupan yang layak.
Dengan demikian penetapan
rancangan budidaya dan pemilihan
jenis komoditas yang akan
diusahakan di suatu daerah harus
dilakukan bersama- sama antara
pemerintah,peneliti dan masyarakat
petani.
Di samping itu perlu di
pertimbangkan jaminan terhadap
kelestarian lingkungan hidup. Setiap
buidaya tanaman yang dilakukan
disamping dapat meningkatkan
produktivitas, juga harus dapat
menekan/ mencegah penurunan
kualitas lingkungan (environmental
degradation) sehingga kenyamanan
hidup masyarakat dapat terjaga
secara lestari.
Karena itu tujuan akhir dari segala
upaya yang dilakukan pada setiap
usaha bertanam, apapun yang
dilakukan adalah untuk
mendapatkan hasil yang setinggi
mungkin baik dari segi kuantitas
10
maupun kualitas apakah itu berupa
bagian generatif atau vegetatif.
Pada kondisi yang kurang
menguntungkan atau dalam upaya
memperbaiki tingkat produktivitas
suatu jenis tanaman, pengetahuan
yang luas mengenai tanaman itu
sendiri khususnya menyangkut
proses produksi yang diperlukan
untuk menghasilkan produksi
optimum mutlak diperlukan.
Analisis konseptual dalam
mengidentifikasi seluruh faktor-faktor
pembatas produksi merupakan
landasan utama dalam
meningkatkan hasil pertanian.
TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN
1.1.Pengertian
Keperluan akan bahan pangan
senantiasa menjadi permasalahan
yang tidak putus-putusnya.
Kekurangan pangan seolah olah
sudah menjadi persoalan akrab
dengan manusia. Kegiatan pertanian
yang meliputi budaya bercocok
tanam merupakan kebudayaan
manusia paling tua.
Sejalan dengan peningkatan
peradaban manusia, teknik budidaya
tanaman juga berkembang menjadi
berbagai sistem. Mulai dari sistem
yang paling sederhana sampai
sistem yang canggih. Berbagai
teknologi budidaya dikembangkan
guna mencapai produktivitas yang
diinginkan.
Istilah teknik budidaya tanaman
diturunkan dari pengertian kata-kata
teknik, budidaya, dan tanaman.
Teknik memiliki arti pengetahuan
atau kepandaian membuat sesuatu,
sedangkan budidaya bermakna
usaha yang memberikan hasil. Kata
tanaman merujuk pada pengertian
tumbuh-tumbuhan yang diusahakan
manusia, yang biasanya telah
melampaui proses domestikasi.
Teknik budidaya tanaman adalah
proses menghasilkan bahan pangan
serta produk-produk agroindustri
dengan memanfaatkan sumberdaya
tumbuhan.
Cakupan obyek budidaya tanaman
meliputi tanaman pangan,
hortikultura, dan perkebunan.
Sebagaimana dapat dilihat,
penggolongan ini dilakukan
berdasarkan objek budidayanya:
· Budidaya tanaman, dengan
obyek tumbuhan dan diusahakan
pada lahan yang diolah secara
intensif.
· Kehutanan, dengan obyek
tumbuhan (biasanya pohon) dan
diusahakan pada lahan yang
setengah liar.
Budidaya tanaman memiliki dua ciri
penting yaitu:
1. Selalu melibatkan barang dalam
volume besar
2. Proses produksinya memiliki
risiko yang relatif tinggi.
Dua ciri khas ini muncul karena
pertanian melibatkan makhluk hidup
dalam satu atau beberapa tahapnya
dan memerlukan ruang untuk
kegiatan itu serta jangka waktu
tertentu dalam proses produksi.
Beberapa bentuk pertanian modern
(misalnya budidaya alga,
2
hidroponika telah dapat
mengurangkan ciri-ciri ini tetapi
sebagian besar usaha pertanian
dunia masih tetap demikian.
1.2. Tindak Budidaya
Tanaman
Kegiatan pertanian (budidaya
tanaman) merupakan salah satu
kegiatan yang paling awal dikenal
peradaban manusia dan mengubah
total bentuk kebudayaan.
Para ahli prasejarah umumnya
bersepakat bahwa pertanian
pertama kali berkembang sekitar
12.000 tahun yang lalu dari
kebudayaan di daerah "bulan sabit
yang subur" di Timur Tengah, yang
meliputi daerah lembah Sungai
Tigris dan Eufrat terus memanjang
ke barat hingga daerah Suriah dan
Yordania sekarang. Bukti-bukti yang
pertama kali dijumpai menunjukkan
adanya budidaya tanaman biji-bijian
(serealia, terutama gandum, kurma
dan polong-polongan pada daerah
tersebut.
Pada saat itu, 2000 tahun setelah
berakhirnya Zaman Es terakhir di
era Pleistosen, di dearah ini banyak
dijumpai hutan dan padang yang
sangat cocok bagi mulainya
pertanian.
Budidaya tanaman telah dikenal
oleh masyarakat yang telah
mencapai kebudayaan batu muda
(neolitikum), perunggu dan
megalitikum.
Pertanian mengubah bentuk-bentuk
kepercayaan, dari pemujaan
terhadap dewa-dewa perburuan
menjadi pemujaan terhadap dewadewa
perlambang kesuburan dan
ketersediaan pangan.
Teknik budidaya tanaman lalu
meluas ke barat (Eropa dan Afrika
Utara, pada saat itu Sahara belum
sepenuhnya menjadi gurun) dan ke
Timur (hingga Asia Timur dan Asia
Tenggara). Bukti-bukti di Tiongkok
menunjukkan adanya budidaya
jewawut (millet) dan padi sejak 6000
tahun sebelum Masehi.
Masyarakat Asia Tenggara telah
mengenal budidaya padi sawah
paling tidak pada saat 3000 tahun
SM dan Jepang serta Korea sejak
1000 tahun SM. Sementara itu,
masyarakat benua Amerika
mengembangkan tanaman dan
hewan budidaya yang sejak awal
sama sekali berbeda.
Budidaya sayur-sayuran dan buahbuahan
juga dikenal manusia telah
lama. Masyarakat Mesir Kuno (4000
tahun SM) dan Yunani Kuno (3000
tahun SM) telah mengenal baik
budidaya anggur dan zaitun.
Teknik budidaya tanaman pada
zaman dahulu tidak dikelompokkan
kedalam teknik budidaya, karena
pada saat itu belum melakukan
tindak budidaya tanaman, karena
sifatnya masih mengumpulkan dan
mencari bahan pangan.
Suatu kegiatan dimasukkan kedalam
tindak budidaya dikatakan apabila
telah melakukan 3 hal pokok yaitu;
1. Melakukan pengolahan tanah
3
2. Pemeliharaan untuk mencapai
produksi maksimum
3. Tidak berpindah-pindah
Pada umumnya kegiatan budidaya
tanaman terkait dengan tingkat
pengetahuan manusia pada masa
itu. Relevansi dari peradaban
tersebut terwujud pada kesadaran
untuk melaksanakan tindak
budidaya. Tindak awal dari
dimulainya teknik budidaya dimulai
dengan menetapnya seorang
peladang menempati suatu areal
pertanaman tertentu.
Teknik budidaya yang sudah maju
ditandai oleh adanya:
1. Lapang produksi
2. Pengelolaan yang berencana
3. Memiliki minat untuk mencapai
produksi maksimum dengan
menerapkan berbagai ilmu dan
teknologi.
Tingkatan teknik budidaya tanaman
berjenjang dari yang paling
sederhana sampai yang
maju/canggih. Nilai kegiatan
budidaya tersebut tergantung pada
tingkat ketiga dari teknik budidaya.
Tingkatan tindak budidaya tanaman
dicerminkan juga oleh tingkatan
pengelolaan lapang produksi.
Pengelolaan yang paling sederhana
sampai pengelolaan yang paling
maju, yaitu teknik budidaya yang
telah melakukan pengelolaan
terhadap unsur iklim, air, tanah dan
udara. Pada kelompok ini pelaku
budidaya telah dapat mengestimasi
produksi maksimumnya dan panen
yang tepat waktu. Sebagaimana
diketahui ketepatan saat panen
sangat menentukan nilau jual suatu
produk. Intensifikasi dalam
pengelolaan lapang produksi diikui
juga oleh meningkatnya sarana
agronomi baik bahan atau jasa.
1.3. Aspek dan Lingkup
Teknik Budidaya
Tanaman
1.3.1. Aspek budidaya
Aspek budidaya meliputi tiga aspek
pokok, yaitu:
1. Aspek pemuliaan tanaman
2. Aspek fisiologi tanaman
3. Aspek ekologi tanaman
Ketiga aspek ini merupakan suatu
gugus ilmu tanaman (crop science)
yang langsung berperan terhadap
budidaya tanaman dan sekali gus
terlihat pada produksi tanaman.
Hasil pemuliaan tanaman, berupa
varietas yang memiliki berbagai
sifat unggul. Akan tetapi sifat unggul
ini hanya akan muncul bila teknik
budidaya yang dilakukan sesuai
dengan sifat yang diinginkan
varietas unggul tersebut. Dengan
kata lain keberhasilan dalam
penggunaan varietas unggul sangat
tergantung pada bagaimana pelaku
budidaya telah melakukan tindak
budidayanya secara benar.
Peningkatan produksi pangan tidak
hanya mengandalkan penemuanpenemuan
varietas-varietas baru
yang mempunyai kelebihankelebihan
tertentu, tetapi juga harus
memperbaiki metoda atau teknik
budidayanya serta mengusahakan
cara bertanam yang benar.
Pemulia tanaman terus berupaya
untuk menghasilkan berbagai
4
modifikasi keunggulannya guna
mencapai peningkatan kebutuhan
manusia.
Aspek fisiologis dalam teknik
budidaya tanaman mencakup
segenap kelakuan tanaman dari
taraf benih sampai taraf panen.
Ekologi tanaman merupakan seluruh
faktor di luar tanaman utama (baik
biotik maupun abiotik) yang
mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman.
1.3.2. Lingkup budidaya
tanaman
Lingkup dari budidaya tanaman
terdiri dari bidang ilmu:
1. Pemuliaan tanaman
2. Teknologi benih
3. Pengolahan
4. Teknik budidaya
5. Pengendalian hama, penyakit
dan gulma
6. Pemanenan
Seluruh lingkup budidaya tanaman
berada dalam konteks yang padu.
Satu sama lain dan mempunyai
hubungan timbal balik yang erat.
Kegiatan budidaya tanaman itu
sendiri mengandung 3 faktor utama
yaitu:
a. Tanaman
b. Lingkungan tumbuh atau lapang
produksi dan teknik budidaya
atau pengelolaan.
c. Produk tanaman
Tanaman pertanian adalah tumbuhtumbuhan
yang dikelola manusia
pada batas tingkat tertentu. Jumlah
spesies yang termasuk kedalam
tanaman pertanian ini cukup banyak
mencapai 20.000 spesies lebih.
Meningkatnya peradaban dan
kebudayaan manusia serta
pemenuhan kebutuhan pangan,
sandang dan papan akan
menambah jumlah spesies yang
termasuk ke dalam tanaman
pertanian.
Tanaman mengalami dua tahap
perkembangan yaitu tahap
perkembangan vegetatif dan
reproduktif. Tahap perkembangan
vegetatif meliputi perkecambahan
benih, pemunculan dan
pertumbuhan bibit dan menjadi
tanaman dewasa. Sedangkan tahap
perkembangan reproduktif meliputi
pembentukan bunga, pembentukan,
pemasakan dan pematangan biji.
Lingkungan tumbuh tanaman dapat
digolongkan ke dalam lingkungan
abiotik berupa tanah atau
medium/substrat lainnya dan iklim
atau cuaca dan lingkungan biotik
berupa makhluk hidup lainnya.
Tanah atau medium/substrat
merupakan pemasok hara dan air
yang diperlukan tanaman selain
sebagai tempat hidup komponen
biotik, baik yang menguntungkan
maupun yang merugikan.
Iklim terdiri dari unsur/unsur seperti
udara, angin, suhu, kelembaban
udara, cahaya matahari, dan hujan.
Lingkungan biotik meliputi hama,
penyakit dan gulma yang merugikan
dan makhluk lainnya yang
menguntungkan tanaman.
5
Lingkungan tumbuh yang baik
memungkinkan produksi tanaman
yang baik juga. Tanaman dengan
lingkungan tumbuhnya saling
berinteraksi dan mempengaruhi satu
sama lain.
1.3.3. Produk budidaya
tanaman
Produk tanaman dapat
dikelompokkan menjadi dua bagian
yaitu:
1. Produk dari teknik budidaya
yang dapat digunakan langsung
2. Benih atau bibit yang merupakan
produk pertanian untuk
mempertahankan kelangsungan
budidaya .
Kedua produk tanaman ini memiliki
prinsip yang berbeda dalam
pengelolaannya.
Pengelolaan untuk menghasilkan
benih/bibit mencakup dua prinsip
yaitu:
a. Prinsip genetis, dalam prinsip
ini teknik budidaya diarahkan
untuk menghasilkan benih/bibit
yang bermutu genetik tinggi
yakni; murni genetik, jelas
varietas, atau benar tipe.
b. Prinsip agronomis, prinsip ini
mengarahkan teknik budidaya
untuk menghasilkan benih
bermutu fisiologis dan mutu fisik
yang tinggi, selain hasilnya juga
tinggi.
Sebagai ilustrasi bagaimana produk
tanaman pertanian di dunia sampai
pada tahun 2002 dapat dilihat pada
Gambar 1.
Pada Gambar 1 berikut ini dapat
dilihat walaupun spesies yang
dimanfaatkan manusia di dunia ini
mencapai 20.000 spesies, akan
tetapi produk terbesar diperoleh ada
tanaman bahan pangan seperti
gandum, padi, jagung dan kentang.
6
Gambar 1. Produksi tahunan beberapa tanaman pertanian di dunia
7
Peningkatan kebutuhan akan bahan
pangan, sandang, dan pangan pada
jenis tertentu akan menghasilkan
temuan varietas baru yang unggul
hanya pada jenis yang diminati saja,
sedangkan pada jenis lainnya relatif
lebih lambat.
Gambar 1 juga memperlihatkan
peningkatan produksi yang relatif
lebih cepat pada bahan makanan
yang berfungsi sebagai makanan
pokok dunia dibandingkan dengan
jenis makanan lainnya.
Peningkatan produksi pertanian
dunia sangat tergantung pada
bagaimana pelaku pertanian
melaksanakan teknik budidayanya.
Beberapa produk pertanian yang
saat ini berhasil berkembang cukup
berarti di Indonesia antara lain :
a. Tepung, beras, ubi kayu,
jagung, gandum
b. Buah-buahan : jeruk, pisang,
mangga, dll
c. Sayur-sayuran: kubis, kentang
d. Kacang-kacangan: kacang
tanah, kedelai
e. Ikan segar, udang, telur, susu,
dairy produk
f. Daging ayam, sapi, kerbau
g. Makanan jadi, minuman
h. Ternak, hasil peternakan,
makanan ternak
1.4. Potensi sumber daya
alam Indonesia.
Indonesia secara alamiah adalah
negara pertanian dengan budaya
pertanian yang kuat. Bertani,
beternak, berburu ikan dilaut adalah
keahlian turun-menurun yang sudah
mendarah daging. Teknologi dasar
ini sudah dikuasai sejak jaman
nenek moyang. Karena budaya
pertanian yang telah mendarah
daging maka usaha pada sektor
pertanian kita sebenarnya dapat
dipacu untuk berproduksi sebesarbesarnya.
Luasnya lahan, cadangan air yang
melimpah, dan potensi wilayah yang
tersedia mulai dari dataran rendah
sampai dataran tinggi yang
mendukung menjadi obsesi dalam
menjadikan Indonesia sebagai
pemasok hasil pertanian unggulan di
kemudian hari.
Indonesia memiliki potensi
sumberdaya yang tidak akan pernah
habis, dan akan tetap ada
sepanjang usia alam itu sendiri yakni
manusia,sinar matahari, tanah,
hutan, dan laut.
Manusia dengan akal dan budaya
lokal daerah yang beraneka ragam
akan menghasilkan beragam
teknologi budidaya yang unggul
spesifik lokasi. Teknik budidaya
yang berbasis pada keragaman
fertilitas tanah, yang berkaitan
dengan jenis tanaman yang sesuai
dengan kondisi setempat akan
mengakibatkan keunggulan
komparatif dari jumlah dan mutu
pertanian yang dihasilkan.
Biodiversitas tanaman dan hewan
Indonesia yang dapat dimanfaatkan
juga relatif tinggi. Hal ini
mengakibatkan munculnya
komoditas unggulan daerah yang
potensial.
8
Beberapa komoditas unggulan
daerah misalnya:
- Aceh yang berpotensi untuk
nilam dan tanaman hutan
- Banten dengan komoditas
unggulan padi, palawija,
sayuran dan buah-buahan
- Sumatera Utara yang terkenal
dengan tanaman perkebunannya
seperti kelapa sawit, karet dan
tembakau deli.
- Sumatera barat dengan padi dan
bengkuangnya
- Sumatera Selatan dengan buah
duku
- Jawa Barat dengan padi,
hortikultura, dan teh
- Madura yang memiliki
keunggulan dalam penghasil
jagung
- Maluku (Studi kasus pada
Kabupaten Buru seluas 511.619
ha) memiliki komoditas unggulan
terdiri kelapa 9.250,2 ha, kakao
6.239, 5 ha, cengkeh 4.590, 6
ha, jambu mete 1.213,4 ha, kopi
196, 6 ha, pala 456, 8 ha, dan
vanili 12,0 ha, dengan rata-rata
produktivitas yang diperoleh dari
komoditas perkebunan adalah :
kelapa 1,2 t/ha/tahun, kakao 1,0
t/ha/tahun, cengkeh 1,2
t/ha/tahun, jambu mete 0,8
t/ha/tahun, kopi 1,0 t/ha/tahun,
dan pala 0,9 t/ha/tahun.
Laut Indonesia lebih kurangnya 70%
belum dieksploitasi secara luas. Laut
yang menyimpan kekayaan
biodiversitas dan sumber gizi praktis
masih belum tersentuh bahkan
sebahagian besar belum
terbayangkan. Disamping itu kita
juga memiliki asset lain yang sangat
potensial yaitu hutan tropis yang
bertindak sebagai produsen oksigen
untuk kebutuhan umat manusia.
Sinar matahari sepanjang tahun
menyebabkan kita tidak memerlukan
rumah kaca yang mahal untuk
mengembangkan sektor
pertaniannya. Sinar matahari yang
memungkinkan terjadinya proses
fotosintesa pada tanaman
memungkinkan untuk
mengembangkan dan menghasilkan
komoditas pertanian yang sangat
besar.
Rancang bangun revitalisasi sektor
pertanian saat ini berfokus pada
penyiapan rancang bangun untuk
peningkatan produk pertanian
secara kuantitas dan kualitas.
Beberapa hal-hal yang harus
dirancang secara cermat dalam
rancang bangun tersebut meliputi
kondisi luas lahan yang tersedia
termasuk didalamnya jenisnya
(sawah, lahan tadah hujan, dan
lahan kering yang akan ditanami
untuk tanaman pangan), jenis
komoditas (hortikultura, perkebunan,
obat-obatan/ dan industri) serta
pelaku tindak budidaya (siapa
petaninya).
Untuk meningkatkan produktivitas
yang diinginkan, kebutuhan pupuk
dan pestisida untuk setiap
pertanaman harus dihitung dengan
cermat dan dirancang cara
pengadaannya dengan teliti agar
pupuk/pestisida berkualitas baik
sudah tersedia dengan jumlah yang
dibutuhkan pada waktu yang tepat.
9
Pengadaan bibit/benih berkualitas
baik dan diperlukan harus dirancang
secara tepat. Konservasi air melalui
pemanenan air hujan harus
dirancang secara baik dan memadai
agar tak terjadi kehilangan air yang
berlebihan, dan air tersebut dapat
dipakai sebagai air irigasi pada
musim kemarau berikutnya.
Desain/rancang bangun sistem
pertanian berkelanjutan akan
diterapkan di setiap daerah dan
harus disesuaikan dengan faktor
biofisik daerah (site specific) dan
disusun sedemikian rupa sehingga
sistem pertanian berkelanjutan
terwujud di setiap daerah.
Oleh karenanya untuk mencapai
cita-cita Indonesia sebagai negara
agraris yang unggul hendaknya
diperhatikan hal-hal berikut:
1. Sistem pertanian yang
disesuaikan dengan kondisi
biofisik daerah
2. Sistem usaha agribisnis
3. Teknik budidaya
4. Perbaikan proses produksi
5. Pemasaran produksi
6. Peningkatan akses masyarakat
terhadap teknologi
7. Pendanaan usahanya dan upaya
peningkatan pelanggan,
sehingga masyarakat mampu
meningkatkan profit
8. Meningkatkan pengembangan
produk dan memperbaiki kualitas
1.5. Peningkatan
produktivitas
Perubahan ekonomi dan
peningkatan pendapatan
masyarakat tani ke arah yang lebih
baik adalah salah satu tujuan
terpenting dari budidaya yang
dilakukan.
Peningkatan ekonomi itu harus
dapat diwujudkan, terutama melalui
peningkatan produktivitas pertanian.
Hal ini sangat berkaitan dengan
rancangan perbaikan teknik
budidaya di suatu daerah yang
harus didasarkan pada faktor biofisik
dan keadaan sosial, budaya, dan
ekonomi setempat dengan tujuan
agar produktivitas pertaniannya
dapat menjamin pendapatan petani
yang cukup tinggi untuk mendukung
kehidupan yang layak.
Dengan demikian penetapan
rancangan budidaya dan pemilihan
jenis komoditas yang akan
diusahakan di suatu daerah harus
dilakukan bersama- sama antara
pemerintah,peneliti dan masyarakat
petani.
Di samping itu perlu di
pertimbangkan jaminan terhadap
kelestarian lingkungan hidup. Setiap
buidaya tanaman yang dilakukan
disamping dapat meningkatkan
produktivitas, juga harus dapat
menekan/ mencegah penurunan
kualitas lingkungan (environmental
degradation) sehingga kenyamanan
hidup masyarakat dapat terjaga
secara lestari.
Karena itu tujuan akhir dari segala
upaya yang dilakukan pada setiap
usaha bertanam, apapun yang
dilakukan adalah untuk
mendapatkan hasil yang setinggi
mungkin baik dari segi kuantitas
10
maupun kualitas apakah itu berupa
bagian generatif atau vegetatif.
Pada kondisi yang kurang
menguntungkan atau dalam upaya
memperbaiki tingkat produktivitas
suatu jenis tanaman, pengetahuan
yang luas mengenai tanaman itu
sendiri khususnya menyangkut
proses produksi yang diperlukan
untuk menghasilkan produksi
optimum mutlak diperlukan.
Analisis konseptual dalam
mengidentifikasi seluruh faktor-faktor
pembatas produksi merupakan
landasan utama dalam
meningkatkan hasil pertanian.
Minggu, 07 November 2010
Jenis-Jenis Mikroskop
Jenis-Jenis Mikroskop
Bentuk dan jenis mikroskop berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mikroskop yang paling sederhana adalah mikroskop cahaya, mikroskop stereo sampai yang modern seperti mikroskop elektron. Semakin modern, perbesaran yang dihasilkan semakin besar dan rinci. Berdasarkan pada kenampakan objek yang diamati, mikroskop dibagi dua jenis, yaitu mikroskop dua dimensi (mikroskop cahaya) dan mikroskop tiga dimensi (mikroskop stereo). Berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.
• Mikroskop Cahaya
Mikroskop cahaya mempunyai perbesaran maksimum 1000 kali. Mikroskop jenis ini memiliki tiga lensa, yaitu lensa objektif, lensa okuler, dan kondensor. Lensa objektif dan lensa okuler terletak pada kedua ujung tabung mikroskop. Lensa okuler pada mikroskop ada yang berlensa tunggal (monokuler) atau ganda (binokuler). Lensa kondensor berperan untuk menerangi objek dan lensa-lensa mikroskop lain. Dengan pengaturan yang tepat maka akan diperoleh daya pisah maksimal.
• Mikroskop Stereo
Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bias digunakan untuk benda yang relatif besar dengan perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan mikroskop ini dapat terlihat secara tiga dimensi. Komponen pada mikroskop stereo hampir sama dengan mikroskop cahaya. Perbedaannya pada ruang ketajaman lensa mikroskop stereo jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mikroskop cahaya sehingga kia dapat melihat bentuk tiga dimensi benda yang diamati.
• Mikroskop Elektron
Mikroskop elektron mempunyai perbesaran sampai 100 ribu kali. Elektron digunakan sebagai pengganti cahaya. Ada dua tipe pada mikroskop elektron, yaitu mikroskop elektroscanning (SEM) dan mikroskop elektron transmisi (TEM).
Bagian-Bagian Mikroskop dan Cara Penggunaannya
• Pengenalan Bagian-Bagian Mikroskop
Setelah kamu tahu sejarah singkat dan jenis-jenis mikroskop, marilah kita pelajari bagian-bagian mikroskop. Coba kamu perhatikan gambar mikroskop berikut ini dan amati masing-masing bagiannya!
Gambar tersebut adalah salah satu jenis mikroskop yang sering dipakai di sekolah, yaitu mikroskop cahaya. Coba bandingkan dengan mikroskop yang ada di laboratorium sekolahmu! Sama ataukah berbeda? Bentuk dan jenis mikroskop memang bermacam-macam, tetapi pada intinya hampir sama prinsip kerjanya. Sekarang mari kita pelajari bagian-bagian mikroskop! Bagian bagian mikroskop dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu bagian optik, penerangan, dan mekanis.
Bagian Optik
Bagian ini berupa lensa-lensa yang mampu membuat bayangan benda menjadi lebih besar. Ada dua macam lensa, lensa yang dekat dengan mata disebut lensa okuler atau lubang pengintai. Kekuatan perbesaran biasanya tertulis pada dan lain-lain. Lensa yang dekat denganpermukaanya, misalnya 10x benda/objek pengamatan disebut lensa objektif dan terpasang pada revolver. Kekuatan perbesaran berbeda-beda misalnya 10x, 20x, maupun 40x. Lensa objektif dapat diatur sesuai dengan pilihan yang kita perlukan dengan cara memutar revolver (tempat lensa objektif). Masih ada satu lagi lensa kondensor yang berfungsi mengumpulkan cahaya atau menerangi objek yang diamati. Perbesaran yang tampak pada pengamatan merupakan hasil kali dari lensa okuler dan lensa objektif yang dandigunakan. Contohnya, bila kamu menggunakan lensa okuler 10x 20 atau sama dengan 200x. Inimaka perbesarannya adalah 10xobjektif 20x berarti benda yang diamati melalui mikroskop telah diperbesar 200x.
Bagian Penerangan
Salah satu syarat sediaan (preparat) dapat diamati dengan jelas adalah pencahayaan yang cukup. Untuk menangkap dan memantulkan cahaya yang masuk, mikroskop dilengkapi dengan reflektor berupa cermin. Cermin tersebut memiliki 2 sisi, datar dan cekung. Permukaan yang datar digunakan jika sumber cahaya cukup terang, sedangkan bagian yang cekung digunakan bila cahaya kurang terang. Di bawah meja objek, dapat kita temukan bagian yang berfungsi mengatur banyaknya cahaya yang masuk. Bagian ini disebut diafragma, di dalamnya terdapat lubang-lubang berupa lingkaran yang dapat diputar, ada yang besar maupun kecil. Semakin kecil diafragma yang digunakan semakin kecil pula cahaya yang masuk ke dalam mikroskop, demikian juga sebaliknya.
Bagian Mekanis
Bagian mekanis berguna untuk menggerakkan dan memudahkan penggunaan mikroskop. Bagian tersebut di antaranya landasan/dasar/kaki mikroskop dan pegangan mikroskop. Selain itu, ada bagian yang berguna untuk pengatur fokus, yaitu pemutar kasar (makrometer) dan pemutar halus (mikrometer).
Bentuk dan jenis mikroskop berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mikroskop yang paling sederhana adalah mikroskop cahaya, mikroskop stereo sampai yang modern seperti mikroskop elektron. Semakin modern, perbesaran yang dihasilkan semakin besar dan rinci. Berdasarkan pada kenampakan objek yang diamati, mikroskop dibagi dua jenis, yaitu mikroskop dua dimensi (mikroskop cahaya) dan mikroskop tiga dimensi (mikroskop stereo). Berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.
• Mikroskop Cahaya
Mikroskop cahaya mempunyai perbesaran maksimum 1000 kali. Mikroskop jenis ini memiliki tiga lensa, yaitu lensa objektif, lensa okuler, dan kondensor. Lensa objektif dan lensa okuler terletak pada kedua ujung tabung mikroskop. Lensa okuler pada mikroskop ada yang berlensa tunggal (monokuler) atau ganda (binokuler). Lensa kondensor berperan untuk menerangi objek dan lensa-lensa mikroskop lain. Dengan pengaturan yang tepat maka akan diperoleh daya pisah maksimal.
• Mikroskop Stereo
Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bias digunakan untuk benda yang relatif besar dengan perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan mikroskop ini dapat terlihat secara tiga dimensi. Komponen pada mikroskop stereo hampir sama dengan mikroskop cahaya. Perbedaannya pada ruang ketajaman lensa mikroskop stereo jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mikroskop cahaya sehingga kia dapat melihat bentuk tiga dimensi benda yang diamati.
• Mikroskop Elektron
Mikroskop elektron mempunyai perbesaran sampai 100 ribu kali. Elektron digunakan sebagai pengganti cahaya. Ada dua tipe pada mikroskop elektron, yaitu mikroskop elektroscanning (SEM) dan mikroskop elektron transmisi (TEM).
Bagian-Bagian Mikroskop dan Cara Penggunaannya
• Pengenalan Bagian-Bagian Mikroskop
Setelah kamu tahu sejarah singkat dan jenis-jenis mikroskop, marilah kita pelajari bagian-bagian mikroskop. Coba kamu perhatikan gambar mikroskop berikut ini dan amati masing-masing bagiannya!
Gambar tersebut adalah salah satu jenis mikroskop yang sering dipakai di sekolah, yaitu mikroskop cahaya. Coba bandingkan dengan mikroskop yang ada di laboratorium sekolahmu! Sama ataukah berbeda? Bentuk dan jenis mikroskop memang bermacam-macam, tetapi pada intinya hampir sama prinsip kerjanya. Sekarang mari kita pelajari bagian-bagian mikroskop! Bagian bagian mikroskop dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu bagian optik, penerangan, dan mekanis.
Bagian Optik
Bagian ini berupa lensa-lensa yang mampu membuat bayangan benda menjadi lebih besar. Ada dua macam lensa, lensa yang dekat dengan mata disebut lensa okuler atau lubang pengintai. Kekuatan perbesaran biasanya tertulis pada dan lain-lain. Lensa yang dekat denganpermukaanya, misalnya 10x benda/objek pengamatan disebut lensa objektif dan terpasang pada revolver. Kekuatan perbesaran berbeda-beda misalnya 10x, 20x, maupun 40x. Lensa objektif dapat diatur sesuai dengan pilihan yang kita perlukan dengan cara memutar revolver (tempat lensa objektif). Masih ada satu lagi lensa kondensor yang berfungsi mengumpulkan cahaya atau menerangi objek yang diamati. Perbesaran yang tampak pada pengamatan merupakan hasil kali dari lensa okuler dan lensa objektif yang dandigunakan. Contohnya, bila kamu menggunakan lensa okuler 10x 20 atau sama dengan 200x. Inimaka perbesarannya adalah 10xobjektif 20x berarti benda yang diamati melalui mikroskop telah diperbesar 200x.
Bagian Penerangan
Salah satu syarat sediaan (preparat) dapat diamati dengan jelas adalah pencahayaan yang cukup. Untuk menangkap dan memantulkan cahaya yang masuk, mikroskop dilengkapi dengan reflektor berupa cermin. Cermin tersebut memiliki 2 sisi, datar dan cekung. Permukaan yang datar digunakan jika sumber cahaya cukup terang, sedangkan bagian yang cekung digunakan bila cahaya kurang terang. Di bawah meja objek, dapat kita temukan bagian yang berfungsi mengatur banyaknya cahaya yang masuk. Bagian ini disebut diafragma, di dalamnya terdapat lubang-lubang berupa lingkaran yang dapat diputar, ada yang besar maupun kecil. Semakin kecil diafragma yang digunakan semakin kecil pula cahaya yang masuk ke dalam mikroskop, demikian juga sebaliknya.
Bagian Mekanis
Bagian mekanis berguna untuk menggerakkan dan memudahkan penggunaan mikroskop. Bagian tersebut di antaranya landasan/dasar/kaki mikroskop dan pegangan mikroskop. Selain itu, ada bagian yang berguna untuk pengatur fokus, yaitu pemutar kasar (makrometer) dan pemutar halus (mikrometer).
MIKROSKOP
Bagian-bagian Mikroskop dan Fungsinya
Mikroskop adalah alat yang di gunakan untuk melihat, atau mengenali benda-benda renik yang terlihat kecil menjadi lebih besar dari aslinya.
berikut adalah bagian-bagian mikroskop beserta fungsinya:
LENSA OKULER, yaitu lensa yang dekat dengan mata pengamat lensa ini berfungsi untuk membentuk bayangan maya, tegak, dan diperbesar dari lensa objektif
LENSA OBJEKTIF, lensa ini berada dekat pada objek yang di amati, lensa ini membentuk bayangan nyata, terbalik, di perbesar. Di mana lensa ini di atur oleh revolver untuk menentukan perbesaran lensa objektif.
TABUNG MIKROSKOP (TUBUS), tabung ini berfungsi untuk mengatur fokus dan menghubungan lensa objektif dengan lensa okuler.
MAKROMETER (PEMUTAR KASAR), makrometer berfungsi untuk menaik turunkan tabung mikroskop secara cepat.
MIKROMETER (PEMUTAR HALUS), pengatur ini berfungsi untuk menaikkan dan menurunkan mikroskop secara lambat, dan bentuknya lebih kecil daripada makrometer.
REVOLVER, revolver berfungsi untuk mengatur perbesaran lensa objektif dengan cara memutarnya.
REFLEKTOR, terdiri dari dua jenis cermin yaitu cermin datar dan cermin cekung. Reflektor ini berfungsi untuk memantulkan cahaya dari cermin ke meja objek melalui lubang yang terdapat di meja objek dan menuju mata pengamat. Cermin datar digunakan ketika cahaya yang di butuhkan terpenuhi, sedangkan jika kurang cahaya maka menggunakan cermin cekung karena berfungsi untuk mengumpulkan cahaya.
DIAFRAGMA, berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk.
KONDENSOR, kondensor berfungsi untuk mengumpulkan cahaya yang masuk, alat ini dapat putar dan di naik turunkan.
MEJA MIKROSKOP, berfungsi sebagai tempat meletakkan objek yang akan di amati.
PENJEPIT KACA, penjepit ini berfungsi untuk menjepit kaca yang melapisi objek agar tidak mudah bergeser.
LENGAN MIKROSKOP, berfungsi sebagai pegangang pada mikroskop.
KAKI MIKROSKOP, berfungsi untuk menyangga atau menopang mikroskop.
SENDI INKLINASI (PENGATUR SUDUT), untuk mengatur sudut atau tegaknya mikroskop.
Mikroskop adalah alat yang di gunakan untuk melihat, atau mengenali benda-benda renik yang terlihat kecil menjadi lebih besar dari aslinya.
berikut adalah bagian-bagian mikroskop beserta fungsinya:
LENSA OKULER, yaitu lensa yang dekat dengan mata pengamat lensa ini berfungsi untuk membentuk bayangan maya, tegak, dan diperbesar dari lensa objektif
LENSA OBJEKTIF, lensa ini berada dekat pada objek yang di amati, lensa ini membentuk bayangan nyata, terbalik, di perbesar. Di mana lensa ini di atur oleh revolver untuk menentukan perbesaran lensa objektif.
TABUNG MIKROSKOP (TUBUS), tabung ini berfungsi untuk mengatur fokus dan menghubungan lensa objektif dengan lensa okuler.
MAKROMETER (PEMUTAR KASAR), makrometer berfungsi untuk menaik turunkan tabung mikroskop secara cepat.
MIKROMETER (PEMUTAR HALUS), pengatur ini berfungsi untuk menaikkan dan menurunkan mikroskop secara lambat, dan bentuknya lebih kecil daripada makrometer.
REVOLVER, revolver berfungsi untuk mengatur perbesaran lensa objektif dengan cara memutarnya.
REFLEKTOR, terdiri dari dua jenis cermin yaitu cermin datar dan cermin cekung. Reflektor ini berfungsi untuk memantulkan cahaya dari cermin ke meja objek melalui lubang yang terdapat di meja objek dan menuju mata pengamat. Cermin datar digunakan ketika cahaya yang di butuhkan terpenuhi, sedangkan jika kurang cahaya maka menggunakan cermin cekung karena berfungsi untuk mengumpulkan cahaya.
DIAFRAGMA, berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk.
KONDENSOR, kondensor berfungsi untuk mengumpulkan cahaya yang masuk, alat ini dapat putar dan di naik turunkan.
MEJA MIKROSKOP, berfungsi sebagai tempat meletakkan objek yang akan di amati.
PENJEPIT KACA, penjepit ini berfungsi untuk menjepit kaca yang melapisi objek agar tidak mudah bergeser.
LENGAN MIKROSKOP, berfungsi sebagai pegangang pada mikroskop.
KAKI MIKROSKOP, berfungsi untuk menyangga atau menopang mikroskop.
SENDI INKLINASI (PENGATUR SUDUT), untuk mengatur sudut atau tegaknya mikroskop.
Langganan:
Postingan (Atom)